Kepemimpinan karismatik adalah suatu istilah yang umum dalam bidang manajemen, yang pertama kali diperkenalkan oleh Max Weber. Sebagai seorang sosiolog Jerman, Weber menjelaskan para pemimpin tertentu memiliki kualitas pengecualian-sebuah karisma-yang memampukan mereka untuk memotivasi pengikut mereka untuk mencapai penampilan terbaik mereka. Charisma sendiri berasal dari kata Yunani yang berarti “karunia yang diberikan oleh para dewa.”
Robert House (1997) telah mempelajari motivasi psikologis dibalik kepemimpinan transformasional (mengubahkan) dan mengamati bahwa karisma adalah aspek utama seorang pemimpin yang mengubahkan. House menggunakan empat ungkapan untuk menjelaskan kepemimpinan karismatik, yaitu:
1. Dominan
2. Memiliki keinginan kuat untuk mempengaruhi orang lain
3. Percaya diri
4. Memiliki kepkaan yang kuat tenatng nilai-nilai moral seseorang
Jay Conger (1989) mengusulkan empat tahap model terjadinya kepemimpinan karismatik:
1. Teruji secara berkesinambungan dari lingkungannya untuk merumuskan apa yang harus dilakukan atau meneguhkan sasaran.
2. Mengkomunikasikan visi mereka, menggunakan argumen yang membangun dan mendorong.
3. Membangun kepercayaan dan komitmen.
4. Ketokohan, pemberdayaan, dan cara-cara yang tidak lazim.
Kepemimpinan karismatik pada umumnya membangun tindakan melalui ideologi, visi atau krisis. Mereka biasanya menjadi pahlawan bagi pengikut, karyawan dan kadang-kadang suatu bangsa. Bahayanya adalah mereka cenderung otoriter, kebutuhan yang kuat untuk mengendalikan orang lain dan ketergantungan yang penuh dari pengikutnya. Kelemahan pribadi lainnya dari kepemimpinan karismatik adalah seperti kecenderungan narsis, gagal untuk mendelegasikan tugas, tidak dapat ditebak, dan tidak peka pada orang lain yang dapat menyebabkan kegagalan kepemimpinannya.
Implikasi bagi kepemimpinan gereja
Gereja sering berpendapat bahwa istilah “karisma” dan “kepemimpinan karismatik” adalah istilah rohani. Banyak orang Kristen melihat Tuhan yang memberikan karunia kepemimpinan sebagai karunia rohani bagi gereja. Kepemimpinan tidak dipandang sebagai suatu kedudukan namun sebagai karunia Tuhan yang diberikan kepada seseorang, namun para pemimpin gereja akan segera menjadi ribut bila beberapa orang di dalam gereja mengaku memiliki karunia ini.
Beberapa saran prinsip implikasi teori kepemimpinan karismatik bagi kepemimpinan gereja:
Pertama, pemimpin gereja harus mengatur ulang pandangan mereka tentang karunia rohani kepemimpinan yang disesuaikan dengan karunia-karunia lainnya seperti rasul, nabi, penginjil, pengajar dan gembala. Jika kepemimpinan adalah karunia utama, maka temukan pribadi yang memiliki karunia ini dan buatlah aturan gereja bagaimana penerapan karunia ini.
Kedua, House menjelaskan ciri kepemimpinan karismatik – dominan, berpengaruh, percaya diri, peka dengan nilai-nilai moral. Ini adalah salah satu tipe pemimpin gereja, namun bukanlah tipe yang terbaik. Kepemimpinan jenis ini sangat baik untuk kepemimpinan dalam suatu gerakan pertumbuhna gereja dan kepemimpinan gereja besar (mega church). Dengan menggunakan istilah karismatik bukan berarti pemimpin tipe ini adalah kepemimpinan Kristen. Meskipun, dari sejarah gereja, kita harus mengakui banyak pemimpin gereja yang efektif adalah pemimpin yang memiliki tipe kepemimpinan karismatik.
Ketiga, dapatkah seseorang megembangkan diri menjadi seorang pemimpin karismatik ataukah kita dilahirkan untuk menjadi pemimpin karismatik? Meskipun jenis kepemimpinan seperti ini sangat diperlukan dalam beberapa keadaan namun kepribadian yang tidak memiliki karisma pun masih dapat menjadi pemimpin yang efektif.
Keempat, tipe kepemimpinan karismatik tampaknya dimunculkan dalam situasi krisis. Hal ini juga dapat berarti bahwa seseorang yang tidak memiliki karisma pun dapat menjadi pemimpin karismatik sebagaimana yang dikehendaki oleh situasi lingkungan dimana dia berada.
Kelima, semua tipe kepemimpinan memiliki bahayanya sendiri, tetapi pemimpin karismatik memiliki bahaya yang lebih banyak dari tipe yang lain. Alkitab dan ajaran Kristen banyak mengatakan bahaya dari status kepahlawanan seseorang – dan seringkali ini terkait dengan pemimpin karismatik. Firman Tuhan banyak memperingatkan potensi bahaya pemimpin karismatik seperti kendali yang berlebihan, ketergantungan pengikutnya, kecenderungan narsistik, mementingkan diri sendiri, terlalu percaya diri dan tidak peka terhadap orang lain. Seorang pemimpin dengan tipe karismatik harus ditempatkan dalam keadaan dan peraturan yang mampu mengikis bahaya dari jenis tipe ini (Sharon Drury).
Untuk studi lanjutan:
Bass, B.M. (1985). Leadership Performance Beyond Expectations. New York: Academic Press
Conger, J.A. (1989). The Charismatic Leader. San Fransisco: Josse-Bass
House, R.J. (1977). Leadership: The Cutting Edge. Carbondale: Southern Illinois University Press.