Senin, 21 Juli 2014


PELUANG GEREJA LOKAL DALAM MENGEMBANGKAN 
PEMIMPIN KRISTEN GENERASI KEMUDIAN
Oleh
Pdt. Ir. N Eka Pradana, M.Th

     Rontoknya peluang orang-orang Kristen untuk duduk sebagai wakil rakyat dan pemimpin di Pemilu 2014 lalu sangat memprihatinkan komunitas Kristen di Indonesia.  Partai-partai politik yang berbasiskan kekristenan di Indonesia yang didirikan sebagai kendaraan politik pun mengalami hal sama.  Pemilu tahun ini menjadi pelajaran sangat berharga tentang betapa pentingnya hikmat dalam mempersiapkan para pemimpin Kristen bagi Indonesia di masa datang.  Dari pada meratapi nasi yang telah menjadi bubur alangkah baiknya kita mulai mempersiapkan para calon pemimpin Kristen dari sekarang.  Tetapi sebelum kita melangkah jauh terlebih dahulu memahami ancaman suatu gerakan kekristenan baik secara eksternal maupun internal..

Ancaman Eksternal
     Secara eksternal paling tidak ada empat ancaman serangan utama yang harus diwaspadai, pertama adalah penggembosan. . Sasaran utama dari serangan ini adalah menghancurkan kekuatan dengan cara membagi-bagi kekuatan tersebut ke dalam bagian-bagian yang kecil.  Pola umum yang digunakan adalah mempengaruhi para pemimpin Kristen yang memiliki pengaruh untuk mendirikan kendaraan politik atau organisasi sendiri dengan tujuan dapat ditunggangi dan sekaligus dikendalikan.  

     Kedua adalah pengkerdilan, serangan ini ditujukan untuk memasung peranan para pemimpin Kristen yang telah mendapatkan kesempatan duduk dalam struktur kepemimpinan.  Pola yang umum digunakan adalah dengan meletakkan para pemimpin Kristen di tempat yang kurang ataupun sama sekali tidak strategis dalam pengambilan kebijakan.  
     
     Ketiga adalah peminggiran, serangan ini ditujukan untuk menutup setiap kesempatan gerakan kekristenan untuk berkarya dan memberi dampak.  Kehadiran para pemimpin gerakan Kristen masih dimungkinkan untuk hidup tetapi tidak memiliki kesempatan sama sekali.  

     Keempat adalah penumpasan, serangan ini adalah serangan pamungkas untuk menghancurkan secara total semua potensi dan sumber daya gerakan maupun pemimpin Kristen (Tentu masih segar dalam ingatan kita apa yang dilakukan oleh Herodes ketika membunuhi bayi-bayi di bawah 2 tahun di Betlehem dan sekitarnya, 2000 tahun yang lalu).

Ancaman Internal
   Secara internal paling tidak ada tiga ancaman yang sangat fatal dalam setiap gerakan kekristenan.  Yang pertama adalah lemahnya paradigma dalam membangun suatu pergerakan.  Bercokolnya faham fatalisme adalah salah satu penyebab utama mengapa suatu gerakan tidak pernah berkembang dengan sempurna.  Faham ini menekankan bahwa kita tidak dapat melakukan apa-apa karena semua telah ditentukan oleh Allah.  Alih-alih dijadikan sebagai motor penggerak, kasih karunia Allah disikapi dengan kepasrahan dan alasan untuk tidak melakukan apa-apa.  Ini terbukti dengan banyak pemimpin gereja yang masih menganut teori kepemimpinan Great Man Theory. Teori ini digolongkan dalam kelompok teori kepemimpinan purba yang sudah dianggap usang dan tidak pernah digunakan dalam polemik kepemimpinan.  Teori ini mengatakan bahwa pemimpin itu dipilih dan dikaruniakan kepada umat oleh Tuhan sendiri.  Umat tidak perlu berbuat apa-apa. 

     Kedua, kekurangan swa-pemberdayaan (lack of self-empowering), ancaman ini lebih disebabkan oleh karena dampak negatif dari kekurangdewasaan.gereja. Meskipun karakteristik kedewasaan suatu gereja masih diperdebatkan tetapi dampaknya sangat jelas yaitu, sikap sinis terhadap segala sesuatu yang baru, tidak bisa mentertawakan kritik yang ditujukan pada kita, ketidaknyamanan yang akut dan ketidakmampuan menghadapi krisis yang dialami.

    Paul G. Stolzt dalam bukunya Adversity Quotient menyebutkan tiga tanggapan yang biasa terjadi dalam menghadapi krisis. Pertama, memutuskan untuk menghentikan segala sesuatu tanpa alasan yang jelas (Quitters).  Kedua, maju beberapa langkah tetapi kemudian setelah menemukan tempat yang nyaman memutuskan untuk berhenti (Campers).  Ketiga, hidup harus maju dan berkarya meskipun menghadapi krisis (Climbers).  Alih-alih menunggu ketidakjelasan, gereja harus bangkit memberdayakan diri untuk mengubah tantangan atau krisis menjadi  peluang dan kesempatan untuk naik lebih tinggi.

   Ancaman ketiga adalah langkanya jejaring (lack of networking).  Ada dua hal penyebab utama langkanya jejaring antar gereja yaitu eklusifisme dan sempitnya pemaknaan Tubuh Kristus.  Ada berbagai alasan yang membentuk gereja menjadi eklusif dan menolak berjejaring, mulai dari hal praktis hingga teologis.  Eksklusifisme yang dibangun baik secara sadar maupun tidak telah mendorong gereja lebih tertutup terhadap sesama gereja.  Hal kedua adalah pemaknaan Tubuh Kristus yang sempit.  Pemaknaan teologis yang seharusnya membuka wawasan justru berbalik menutup pintu pencerahan.  Itulah yang menjadi salah satu sebab gagal tumbuhnya jejaring antar gereja.  Gereja-gereja di Indonesia harus berjejaring dan bekerjasama mempersiapkan pemimpin Kristen di masa datang (bdg. Mukjizat yang dialami oleh orang lumpuh karena kerjasama empat orang yang mengusungnya di hadapan Yesus dengan cara membongkar atap dalam Markus 2: 1-12).

     Ketiga kelemahan internal membuat gereja rentan terhadap ancaman eksternal di satu sisi dan juga melemahkan gereja sebagai wahana pengembangan dan pertumbuhan calon pemimpin Kristen di masa depan di sisi yang lain.  Tetapi tugas mempersiapkan calon pemimpin menjadi kebutuhan yang mendesak bagi komunitas Kristen di Indonesia.  Kita tidak perlu terintimidasi oleh ancaman serangan eksternal dan pesimis dengan kelemahan diri.  Sejarah kekristenan telah membuktikan bahwa gereja memiliki pengalaman yang cukup dalam menghadapinya dan gereja tetap berdiri kokoh hingga hari ini.  Hal yang perlu dilakukan sekarang adalah menutup kelemahan utama diri kita sambil terus waspada menghadapi ancaman serangan.

Mempersiapkan Pemimpin Kristen Sejak Usia Dini
     Bagaimana kita mempersiapkan para pemimpin Kristen di masa datang?  Akankah kita hanya menunggu paket kiriman pemimpin dari Tuhan?  Daripada menunggu paket kiriman yang tidak jelas kapan datangnya, saya menyarankan kita dengan segera untuk mempersiapkan para pemimpin Kristen sejak usia dini.  Mempersiapkan pemimpin itu seperti mempersiapkan seorang atlet juara bukan hanya kecakapan saja yang dipersiapkan tetapi yang lebih utama adalah menjadikan atlet tersebut memiliki mental juara.  Untuk itu pembinaan atlet harus dimulai dari usia dini.  Demikian juga dengan pemimpin Kristen, jika kita ingin memiliki pemimpin Kristen berskala dunia atau paling tidak nasional maka kita harus membina dan mempersiapkan mereka sejak usia dini.

      Contoh di masa lalu tentang bagaimana mempersiapkan seorang pemimpin sejak usia dini adalah pemimpin gereja yang bernama Timotius.  Ia menjadi seorang pemimpin gereja mula-mula di bawah bimbingan rasul hebat, Paulus.  Tetapi sebelum bertemu dengan Paulus, ia telah dididik dengan sangat intens oleh ibunya Eunike dan neneknya Lois yang adalah orang Yahudi.  Untuk masa sekarang mungkin kita bisa mengacu pada keluarga Kennedy di Amerika Serikat.  Keluarga ini telah memberikan sumbangan yang sangat besar bagi kepemimpinan bangsa di AS.  Dimulai dari JFK (John F Kennedy) yang tewas ditembak di awal 1960-an, mereka terus berkarya dalam kepemimpinan AS hingga Ted Kennedy yang baru saja meninggal.  Yang tidak boleh dilupakan dalam keluarga ini adalah peran dari Rose Kennedy, ibunda JFK, yang sangat serius mempersiapkan anak-anak dan cucu-cucunya untuk menjadi pemimpin yang bertaraf nasional maupun internasional.

Mengembangkan Aspek Doing dan Being Kepemimpinan Kristen.
     Mempersiapkan pemimpin pada umumnya dibagi dalam dua aspek utama yaitu doing aspect (behaviour, skill, practices) dan being aspect (self, framing, character, alignment).  Lembaga-lembaga pendidikan umum, lembaga pelayanan mahasiswa Kristen dan sekolah-sekolah teologi pada umumnya menekanan pada doing aspect dan kurang menekankan pada being aspect..  Peran lembaga-lembaga ini telah terbukti cukup signifikan untuk mempersiapkan para pemimpin Kristen dengan hasil seperti sekarang ini.  Tetapi kita memerlukan para pemimpin Kristen yang memiliki kaliber yang lebih besar sehingga dampak yang ditimbulkannya pun akan lebih luas. 

     Mengapa peranan lembaga disebut di atas tidak dapat menghasilkan para pemimpin yang kita perlukan?  Salah satu sebab utama oleh karena lembaga-lembaga tersebut hanya dapat melakukan finishing touch dalam mempersiapkan pemimpin Kristen.  Pada umumnya mereka menerima calon yang sudah setengah jadi lalu dibentuk dengan pelatihan dan seminar-seminar yang sporadik. Jika calon itu memiliki kualitas being yang baik itu akan sangat menguntungkan mereka, tetapi yang sering terjadi adalah sulitnya menemukan calon dengan kualitas being yang baik.  Kita memerlukan pembinaan pemimpin Kristen yang lebih terpadu dan sistemik.  Kita memerlukan para pemimpin Kristen sejati dan bukan pemimpin Kristen polesan. Bukan hanya menekankan pada doing aspect saja tetapi lebih pada being aspect dengan kualitas prima.

     Bagaimana dengan kita di Indonesia?  Disinilah peran gereja lokal sangat dibutuhkan.  Gereja sangat berperan dalam mempersiapkan pemimpin Kristen terutama dalam being aspect.  Gereja dan keluarga harus kembali kepada fungsi utamanya sebagai lembaga pendidikan, terutama untuk mempersiapkan pemimpin Kristen Indonesia di masa datang terutama dalam being aspect.  Meskipun kenyataannya sekarang gereja dilanda faham rasionalisasi yang sangat kuat, sehingga banyak gereja dilemahkan otoritasnya dalam menumbuhkan pemimpin-pemimpin Kristen baru.

     Ada yang mengatakan bahwa “gereja tidak menciptakan pemimpin tetapi gereja hanya menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya para pemimpin, ” itu adalah sepenuhnya benar.  Pemimpin tidak pernah diciptakan, pemimpin itu bertumbuh dan berkembang.  Banyak pemimpin tidak bertumbuh dalam lingkungan yang tepat sehingga mereka menjadi pemimpin yang buruk (contoh Hitler, Stalin, Mussolini, dsb).  Mungkin pemimpin seperti itu adalah pemimpin yang efektif, karena mereka terbukti bisa dan mampu memimpin suatu negara dengan kekuatan super di jamannya tetapi seorang pemimpin bukan hanya efektif tetapi juga harus bermoral (lihat Linda Kellerman, dalam bukunya Bad Leadership: What it is, How it happens, Why it matters: Harvard Business School Press, 2004).  Apapun kenyataan yang muncul di permukaan, gereja Tuhan adalah tempat yang paling ideal dan bermoral untuk menumbuh kembangkan pemimpin Kristen di masa depan di banding lembaga-lembaga lain apalagi jika dibandingkan dengan lembaga di luar gereja. 

Gereja Sebagai Komunitas Berdaya guna Kepemimpinan
     Ancaman serangan dan kelemahan yang telah disampaikan di atas harus dihadapi bersama-sama.  Gereja dan keluarga yang telah terbukti selama ribuan tahun yang mampu berhasil menetralisir ancaman, serangan serta kelemahan tersebut.  Jadi mengapa kita tidak memberdayakan kembali gereja yang telah terbukti kehandalannya dan bekerjasama dengan berbagai lembaga lain dalam mempersiapkan pemimpin di masa datang?.

     Beberapa kelebihan gereja lokal dalam mempersiapkan pemimpin Kristen di masa datang adalah seperti : (1) Tersedianya sumber daya calon pemimpin Kristen usia dini. (2) Berlimpahnya tenaga pelatih. (3) Kemampuan menyelenggarakan pembinaan dengan biaya murah. (4) Potensi gereja lokal sebagai laboratorium pembinaan kepemimpinan Kristen yang sempurna.

     Hal yang terlebih dahulu yang perlu dilakukan adalah membangun dasar spiritual termasuk mengubah paradigma gereja dari sekedar sebuah komunitas iman, kasih dan persaudaraan menjadi suatu komunitas yang berdaya guna, teristimewa berdaya guna dalam mempersiapkan pemimpin di masa datang.  Hal-hal yang melemahkan daya guna gereja dalam kepemimpinan pada umumnya adalah: ketakutan terhadap sikap reaktif masyarakat di luar gereja, ajaran yang keliru, kelangkaan para pelatih kepemimpinan profesional dan gambaran diri (self-image) yang tidak alkitabiah.  Kedua, melakukan tindakan rasionalis seperti perencanaan (planning), penganggaran (budgeting), pengorganisasian (organizing) dan pengawasan (controlling).




Minggu, 04 Mei 2014

KEPEMIMPINAN TRANSAKSIONAL

IMPLIKASI KEPEMIMPINAN TRANSAKSIONAL DALAM KEPEMIMPINAN KRISTEN 
Ir. N. Eka Pradana, M.Th. 

 Abstract: 
Kepemimpin adalah satu topik yang selalu menarik untuk dibicarakan karena pada setiap komunitas dalam waktu dan ruang tertentu akan selalu membutuhkan seorang pemimpin baik di masa lalu, sekarang maupun di masa datang. Penelitian dalam bidang kepemimpinan telah terbukti menghasilkan nilai-nilai yang lebih universal yang berlaku dalam situasi dan waktu yang lebih daripada teori kepemimpinan yang dibangun atas dasar kepemimpinan seseorang. Jika pemimpin sekuler dituntut untuk menjadi pemimpin yang efektif maka pemimpin Kristen pun demikian. Terbukti bahwa kepemimpinan transaksional sangat sesuai untuk diimplikasikan dalam kepemimpinan Kristen


 Pendahuluan 
 Kepemimpinan adalah bidang yang telah lama dipelajari sepanjang sejarah kebudayaan manusia seperti yang nyata dalam tulisan-tulisan Kong Hu Cu, Aristoteles dan bahkan dari Alkitab sendiri. Perkembangan penelitian dibidang kepemimpinan telah berkembang sedemikan rupa mulai penelitian-penelitian yang berfokus pada kepribadian, gaya dan perilaku kepemimpinan, proses kelompok kepemimpinan hingga konteks kepemimpinan. Para ahli kepemimpinan pada umumnya sepakat bahwa kepemimpinan adalah suatu hubungan kekekuasaan, penerapan pengaruh, alat untuk mencapai sasaran, atau sebuah pengesahan dari struktur organisasi. Definisi-definisi yang baik tentang kepemimpinan biasanya berkisar dengan hal-hal tersebut. Para pemimpin biasanya adalah para agensia perubahan, karena kepemimpinan akan menghasilkan suatu perubahan organisasi yang terjadi baik baik di dalam maupun diluar lingkungan. Hal tersebut juga terjadi di dalam gereja tanpa terkecuali. Untuk memimpin pribadi-pribadi dan organisasi secara efektif maka para pemimpin gereja (gembala sidang dan para pemimpin lainnya) perlu menerapkan teori kepemimpinan yang ada. Buku-buku kepemimpinan yang ditulis untuk para pemimpin Kristen biasanya ditulis berdasarkan pengalaman kepemimpinan seseorang yang berada dalam suatu lingkungan tertentu, sehingga sangat kurang memiliki nilai-nilai universalitas. Untuk itu buku-buku yang demikian seyogyanya tidak digunakan sebagai acuan dalam kepemimpinan karena sarat dengan keterbatasan ruang lingkup dan penerapannya.

Para pemimpin Kristen harus memiliki wawasan yang luas tentang teori-teori kepemimpinan yang didasarkan pada riset bukan didasarkan pada pengalaman seseorang atau cerita tentang “ apa yang telah berhasil saya lakukan.” Karena riset kepemimpinan akan menghasilkan suatu kebenaran yang lebih luas dan universal, bukan hanya apa yang berhasil dilakukan di sebuah ruang lingkup yang sempit dan terbatas. Salah satu bagian penelitian dalam kepemimpinan yang menjadi favorit adalah penelitian pada bidang yang menekankan pada hubungan interaksi antara pihak pemimpin dan pihak mereka yang dipimpin (bawahan), serta pengaruhnya terhadap masing-masing pihak. Teori-teori kepemimpinan yang paling menonjol dalam bidang ini adalah Leader-Member Exchange Teory (LMX) , Transactional Leadership , Transformational Leadership dan Servant Leadership. Dalam tulisan ini, penulis hanya akan membahas penerapan teori kepemimpinan transaksional dan transformasional dalam kepemimpinan Kristen.


KEPEMIMPINAN TRANSAKSIONAL 
Sejumlah pendekatan dalam kepemimpinan menekankan pada proses timbal balik dimana para pemimpin menolong mereka yang dipimpinnya untuk menuntaskan sasaran. Peran seperti itu biasanya dikenal dengan kepemimpinan transaksional, diberi nama seperti itu oleh karena terjadinya suatu transaksi atau pertukaran. Kepemimpinan transaksional pada umumnya menggunakan konsep kepemimpinan yang menonjolkan kepribadaian, perilaku dan gaya situasional kepemimpinan. Studi tentang teori kepemimpinan ini berfokus pada kemampuan dalam hal menjalankan tugas kepemimpinan dan bagaimana menjali hubungan (relationship) dengan yang dipimpinnya.

Tugas utama dari para pemimpin transaksional adalah menolong mereka yang dibawahnya untuk mengidentifikasi sasaran yang harus diselesaikan, sebagaimana teori Path-goal Model Leadership. Meskipun proses pertukaran ini kadang-kadang sederhana, namun terkadang kepemimpinan transaksional ini bisa menjadi sangat rumit dan termasuk didalamnya melibatkan bagaimana pemimpin menolong mereka yang dipimpinnya untuk mengidentifikasi bukan hanya apa yang harus diselesaikan namun juga bagaimana memotivasi bawahannya untuk mencapai kesuksesan. Kepemimpinan transaksional muncul tatkala reward atau punishment dilakukan oleh pemimpin atas bawahannya sebagai akibat dari kinerja mereka.

Kepemimpinan transaksional sangat bergantung pada penguatan terus-menerus, baik reward berlanjut yang bersifat positif (CR/Contingent Reward) atau bentuk aktif atau pasif dari manajemen dengan pengecualian (management-by-exception) baik aktif maupun pasif. Komponen dalam kepemimpinan transaksional sebagai berikut:

1.CONTINGENT REWARD (CR).
Transaksi konstruktif ini terbukti efektif dalam memotivasi orang lain untuk mencapai kinerja tertinggi mereka. Kepemimpinan Contingent Reward melibatkan pemberian pekerjaan oleh pemimpin atau menambah persetujuan pengikut atas kebutuhan apa yang harus dituntaskan dengan janji atau reward aktual yang ditawarkan dalam pertukarannya dengan derajat kepuasan yang muncul dari pekerjaan tersebut. Contoh item untuk mengukur Contingent Reward adalah “Pemimpin menjelaskan apa yang orang bisa peroleh jika tujuan dari kinerja dicapai.”

2. MANAGEMENT-BY-EXCEPTION (MBE).
MBE terdiri atas Management-by-Exception Aktif (MBE-A) dan Management-by-Exception Pasif (MBE-P). Dalam MBE-A, pemimpin secara aktif merancang perangkat guna memantau penyelewengan dari standard, kesalahan, dan error yang ditunjukkan oleh pengikut untuk selanjutnya dilakukan langkah-langkah perbaikan. Dalam MBE-P, pemimpin secara pasif menunggu terjadinya penyelewengan, kesalahan, dan error untuk muncul terlebih dahulu baru kemudian mengambil langkah perbaikan. MBE-A efektif untuk dilakukan dalam situasi pekerjaan yang penuh bahaya. MBE-P efektif untuk dilakukan tatkala pemimpin membawahi pengikut yang cukup banyak dan mereka melakukan pelaporan kepadanya. Contoh item MBE-A adalah “Pemimpin mengarahkan perhatian agar kesalahan yang terjadi diperbaiki hingga sesuai dengan yang diharapkan.” Contoh item MBE-P adalah “Pemimpin tidak akan mengambil tindakan hingga keluhan diterima oleh mereka.”


 IMPLIKASI TERHADAP KEPEMIMPINAN KRISTEN 
Komponen kepemimpinan transaksional bukan hal yang asing dalam kekristenan. “Contingent Reward” pada dasarnya memiliki akar yang kuat dalam pengajaran Kristen. Setiap orang Kristen percaya bahwa keselamatan adalah hanya oleh iman semata (sola fide), namun Tuhan juga menjanjikan “reward” yang lain bagi mereka yang melayani dengan setia. Banyak orang Kristen juga percaya bahwa Tuhan sendiri adalah contoh terbaik dengan apa yang disebut dengan “management by exception,” sebagai contoh: Tuhan akan campur tangan dalam perkara-perkara terkait dengan umat-Nya bila perjanjian-Nya dilanggar. Meskipun sebagian besar orang Kristen menolak pemahaman atau gagasan tentang pertukaran untuk memperoleh keselamatan, namun semua percaya bahwa orang Kriten akan menerima bahwa ada “reward” atau hadiah atas kesetiaan dalam mengikut Tuhan.

Gagagasan ini membuat orang Kristen secara khusus terbuka terhadap prinsip-prinsip kepemimpinan transaksional. Berikut dua implikasi kepemiminan transaksional dalam kepemimpinan Kristen:

1. Para pemimpin Kristen seringkali cenderung hanya memberikan penghargaan berupa keuangan kepada para pengikutnya (kecuali memang staf profesional). Penghargaan lain yang ditawarkan sering kali hanya bersifat intrinsik, tidak berwujud, dan kadang-kadang ditunda dibanding dengan penghargaan sejenis upah atau gaji. Jika memang itu yang terjadi, maka gereja justru akan kehilangan keunikkannya. Bagi banyak aktivis gereja pada umumnya memahami bentuk penghargaan tidaklah semata-mata mengharapkan penghargaan dalam bentuk uang atas bakti kerja mereka. Seringkali pekerjaan pelayanan gereja justru bukan didasarkan pada keuangan semata namun lebih kepada motivasi bagaimana mengaktualisasi diri mereka, pengabdian diri, memberi kontribusi pada kekekalan, atau membuat dunia ini menjadi lebih baik. Para pemimpin Kristen harus lebih memahami hal tersebut dengan lebih cermat karena penghargaan seperti inilah yang tidak dapat diberikan oleh komunitas apapun diluar gereja.

2. Pekerjaan pelayanan Kristen harus diberlakukan sebagai suatu pekerjaan yang mendatangkan sebuah penghargaan. Bukan suatu hal yang memalukan untuk mendorong pengikut dengan menawarkan suatu pahala yang besar ketika mereka terlibat dalam pelayanan Kristen secara sukarela seperti menjadi tenaga pengajar sekolah minggu, pengatur parkir kendaraan, membimbing remaja dan pemuda, dsb.


(1)  Graen, G. G., & Uhl-Bien, M. (1995). Relationship-based approach to leadership: Development of leader-member exchange (LMX) theory of leadership over 25 years: Applying a multilevel multi-domain perspective. Leadership Quarterly, 6(2), 219-247.
(2) Northouse, P. G. (2001). Leadership theory and practice (2nd Ed.). Thousand Oaks, CA: Sage Publications.
(3) Burns, J. M. (1978). Leadership. New York: Harper & Row.
(4) Greenleaf, R. K. (1977). Servant leadership: A journey into the nature of legitimate power and greatness. New York: Paulist Press.
(5) House, R. J. (1971). A Path-Goal Theory of Leader Effectiveness. Administrative Science Quarterly. 16, 321-328.

 Ir. N. Eka Pradana, M.Th., adalah staf pengajar di Sekolah Tinggi Teologi Soteria Purwokerto (STTSP) dalam bidang Dogmatika dan Kepemimpinan Kristen.  STTSP adalah sekolah yang dirikan oleh Pdt. Pilipus Budiprayitno Gembala Sidang Gereja Bethel Tabernakel Yesus Juruselamat Purwokerto . Instruktur dalam pembedayaan kepemimpinan Kristen bagi mahasiswa dan anak muda Kristen.

Rabu, 16 April 2014

DELAPAN KARAKTER UTAMAPEMIMPIN KRISTEN
Eksegesis Ucapan Bahagia dalam Matius 5:1-12
Bagian I
Ir. N. Eka Pradana, M.Th.

Pendahuluan
Hanya ada tiga jenis manusia: orang biasa, para ahli dan orang jenius. Orang biasa melakukan apa yang dikatan pada ahli kepada mereka.  para ahli menolong orang-orang untuk menghadapi kenyataan.  Para jenius menciptakan kenyataan baru.  Untuk menjadi seorang pemimpin, kita tidak perlu menjadi seorang jenius, namun menjadi seorang pemimpin cukup menjadi seorang ahli.  Kabar baiknya adalah  kita tidak perlu menjadi seorang jenius untuk memperoleh kesuksesan dalam kepemimpinan.
Menjadi seorang pemimpin bukan hanya harus memiliki kompetensi kepemimpinan seperti kecakapan dalam berkomunikasi secara efektif, memotivasi orang lain, membuat keputusan yang tepat, positif mengelola konflik dan membentuk serta memimpin suatu kelompok.
Menjadi seorang pemimpin Kristen berawal dari pengembangan diri (self improvement) tentang bagaimana memahami diri sendiri, mengatur sasaran yang berarti, dan mengelola waktu secara efektif. Dalam hal memahami diri hal uatama yang terkait dengan diri seorang pemimpin Kristen adalah kepribadian.  Kita bisa mengetahui kepribadaian kita melalui banyak hal seperti tes-tes kepribadian seperti DISC, MBTI, Five Factor Model, dsb.  Kita bisa memiliki salah satu dari itu.  Tetapi salah cara termudah dalam memahami dan mengembangkan kepribadain diri maka para pemimpin Kristen harus belajar dari para ahli dibidang itu.  Yesus Kristus adalah guru dari segala guru dalam hal pengembangan diri terutama dalam hal kepribadian.
Ucapan bahagia adalah kumpulan dari delapan karakter kualitas hidup yang membedakan antara pemimpin Kristen dengan pemimpin-pemimpin non Kristen. Kedelapan ucapan bahagia ini menjelaskan tentang penyataan betapa diberkatinya/beruntungnya  pemimpin Kristen yang dengan rela merendahkan diri mereka sendiri pada kehendak Allah.  Ini bukan berarti ada delapan kelompok orang dengan jenis kelompok tertentu (orang miskin, orang yang berdukacita ,dsb) namun setiap pemimpin Kristen harus mewujudkan setiap karakter ini demi menjadi murid Kristus dan pemimpin Kristen yang efektif. 

Pandangan yang Keliru Tentang Ucapan Bahagia
Dikalangan orang Kristen sendiri ada banyak pandangan yang berbeda  tentang ucapan bahagia. Kelompok pertama, berpendapat bahwa pengajaran Ucapan Bahagia adalah dasar pengambilan keputusan  etis untuk mereka yang masuk dan berada dalam Kerajaan Seribu Tahun kelak dan bukan untuk sekarang ini. Padahal  maksud  Yesus saat mengucapkan pengajaran ini  untuk mempersiapkan para murid-Nya akan penganiayaan yang akan mereka alami.  Sehingga sangat tidak tepat bila ucapan bahagia ini tidak dapat diterapkan pada masa sekarang.
Kelompok kedua, biasanya dianut oleh para para teolog liberal, mereka  sering mengutip Ucapan Bahagia ini untuk menjadi dasar dari pola apa yang sering kali populer dengan istilah social gospel.  Pandangan ini mengajarkan bahwa Injil itu bukanlah Injil seperti yang kita kenal sebagai sebuah berita tentang kemerdekaan dari perbudakan dosa melalui kematian Kristus di kayu salib,  tetapi lebih pada suatu usaha perbaikan keadaan sosial masyarakat yang tertekan sebagai dampak dari kesenjangan dan ketidakadilan sosial dalam masyarakat. Sedangkan kelompok ketiga menganggap Ucapan Bahagia seperti halnya Hukum Taurat. Mereka memperlakukan Ucapan Bahagia sebagai sebuah hukum yang harus ditaati tanpa melihat esendsi dari Ucapan Bahagia itu sendiri.  Mereka mengubah ajaran Yesus kedalam suatu rangkaian perintah dan larangan.  Padahal inti dari Khotbah di Bukit sama sekali tidak mengatakan “Hiduplah seperti yang dikhotbahkan maka kita akan menjadi Kristen” namun lebih pada “Karena kita orang Kristen maka hiduplah seperti apa yang dikhotbahkan.”

Kedelapan karakter yang harus dimiliki oleh para pemimpin Kristen yang terdapat dalam Ucapan Bahagia di Matius 5:1-12  adalah:
1.      Merendahkan Diri
2.      Rela Memikul Beban
3.      Taat pada Kehendak Allah
4.      Mengutamakan Kebenaran
5.      Murah Hati
6.      Memiliki Motivasi yang Murni
7.      Pembawa Damai
8.      Tangguh

Latar Belakang
Matius 5:1-2 - Idw.n de. tou.j o;clouj( avne,bh eivj to. o;roj\ kai. kaqi,santoj auvtou/( prosh/lqon auvtw/| oi` maqhtai. auvtou/\ kai. avnoi,xaj to. sto,ma auvtou/( evdi,dasken auvtou,j( le,gwn( (  Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.  maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: )
Bukit (o;roj) dan Orang Banyak (o;clouj)) – Pada ayat 1, terdapat dua tindakan Yesus yang terjadi secara berurutan “melihat orang banyak ” dan “naiklah Ia ke atas bukit.”  Kata kerja utama disini adalah “naik” (indikatif)  dan sambil naik Yesus juga “melihat” (partisip) kepada orang banyak.  Tindakan utama pada ayat disini adalah Yesus naik ke bukit, ini bukan tindakan sebagai suatu sebab oleh karena Dia melihat orang banyak.  Yesus telah dengan sengaja naik ke bukit sambil melihat kepada orang banyak itu. Menjadi pertanyaan disini adalah: Mengapa Yesus memilih sengaja naik ke bukit bersama para murid-Nya daripada berkumpul bersama orang banyak? Rupanya naik ke bukit adalah kebiasaan Yesus dalam kehidupan pelayanan-Nya (bdg. Luk. 3:13, Luk. 6:12). Popularitas Yesus telah membuat Dia selalu berada ditengah-tengah kerumunan orang banyak dan tentu saja Dia memerlukan waktu khusus yang Dia peruntukkan bagi para murid dan Bapa-Nya.  Dengan naik keatas bukit, Dia mengambil waktu sejenak untuk memisahkan diri dari orang banyak.  Ayat 1 dan 2 jelas sekali menunjukkan bahwa tujuan Yesus naik ke bukit adalah untuk mengajar para murid-Nya. Tidak ada petunjuk yang jelas apakah orang banyak mengikuti Yesus dan mendengar pengajaran-Nya. Mungkin saja orang banyak berada di situ namun pengajaran Yesus secara khusus diperuntukkan kepada murid-murid-Nya.
Ia duduk dan mulai mengajar. Frasa “dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.  maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka ini menjadi sangat penting oleh karena hubungan antara tindakan Yesus yang duduk dan kemudian mengajar para murid-Nya. Kata duduk (kaqi,santoj) mengindikasikan bahwa tindakan Yesus duduk itu seolah-olah merupakan tanda atau isyarat yang ditujukan kepada murid-murid-Nya untuk datang mendekat.  Dan ini telah menjadi kebiasaan dan budaya Yahudi pada waktu itu, para guru dan rabbi selalu mengajar dalam keadaan duduk (Mat. 13:2; Mar. 4:1; Luk. 5:3).  Murid-murid-Nya merespon isyarat ini dengan cepat dan segera datang mendekat kepada Yesus.

       I.            Merendahkan Diri
Matius 5: 3  -  Maka,rioi oi` ptwcoi. tw/| pneu,mati( o[ti auvtw/n evstin h` basilei,a tw/n ouvranw/nÃ…  (Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga).

Berbahagialah maka,rioj (makarios). Setiap kata bahagia pada Ucapan Bahagia (The Beatitudes) berasal dari kata makarios (Yunani) atau asher (Ibrani)  yang berarti diberkati, bahagia dan beruntung yang terjadi secara bersamaan.  Terjemahan bahasa Indonesia lebih memilih kata “bahagia” meskipun itu belum cukup menjelaskan makna kata makarios.  Kata makarios tidak mengajarkan kepada kita bagaimana kita menjadi bahagia, tetapi diberkati.  Diberkati lebih daripada sekedar kebahagiaan karena Ucapan Bahagia sama sekali tidak menjanjikan bahwa mengikut Kristus akan penuh dengan gelak tawa, hal-hal yang menyenangkan secara fisik atau kemakmuran secara duniawi.  Diberkati Allah berarti kita akan mengalami sukacita dan pengharapan, terlepas dari keadaan yang menimpa sekeliling kita.  Kebahagiaan sejati adalah mengikut Kristus berapapun harga yang harus dibayar. Ucapan Bahagia berbicara tentang sukacita yang datang meskipun berada ditengah-tengah penderitan oleh karena sakit, kesedihan, kepedihan, dukacita, atau kehilangan seseorang yang sangat kita cintai (2 Tim. 4:6-8; Fil. 4:4) dan sukacita itu tidak akan pernah diambil dari kita (Yoh. 16:22).

Orang yang miskin dihadapan Allah (oi` ptwcoi. tw/| pneu,mati) – poor in spirit.  LAI menerjemahkan dengan menambahkan miskin dihadapan Allah namun dalam naskah asli secara literal diterjemahkan sebagai miskin dalam roh atau semangat (poor in spirit).  Yesus tidak berbicara tentang  kemiskinan secara duniawi sebagai satu cara mengalami kelimpahan secara rohani.  Namun Dia sedang berbicara tentang  kemiskinan dalam ranah rangka pikir yaitu suatu sikap atau karakter  ketidakberdayaan diri oleh karena lebih tunduk pada kehendak Kristus.  Miskin secara roh (semangat)  adalah  kebalikan dari sikap atau semangat hidup dunia yang selalu mengedepankan ego manusia diatas segalanya.  Semangat yang mengutamakan kehendak dan keinginan pribadi bukan pada keinginan dan kehendak Allah.  Ketika seseorang dengan kesadaran penuh tunduk untuk mengikuti kehendak Allah maka dia secara rohani akan disebut sebagai miskin dalam roh.  Jadi arti teologis yang dimaksud dengan kemiskinan adalah identik dengan ketidakberdayaan ego dengan segala keinginannya dan tunduk  pada kehendak Allah. Miskin secara roh adalah suatu bentuk kesadaran diri tentang suatu keadaan bahwa kita tidak ada apa-apanya dihadapan Allah atau dengan kata lain lenyapnya segala kesombongan dan sikap mengandalkan diri sendiri.  Miskin secara roh tidak berarti kehilangan semangat hidup dan tidak memiliki dorongan untuk menuntaskan tugas yang dibebankan. Justru sebaliknya semangat dan dorongan dialihkan sedemikian rupa untuk memuliakan Tuhan (Fil. 3:13-14).

Karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga (o[ti auvtw/n evstin h` basilei,a tw/n ouvranw/n ).  Hal yang menarik disini adalah kepemilikan Kerajaan Allah bukan suatu bentuk hadiah namun suatu bentuk sebab akibat. Jika setiap orang percaya menyadari bahwa dia “miskin dihadapan Allah” atau menyadari bahwa dia tidak memiliki sesuatu apapun untuk diberikan kepada Allah, bahwa dia secara hakiki adalah orang yang mengalami kebangkrutan secara rohani maka dampak dari bentuk sikap kesadaran ini, dia akan menjadi bagian dari Kerajaan Sorga.
Tense dari kata evstin adalah kata kerja present active, hal ini berarti bahwa kepemilikan Kerajaan Sorga bukan diperuntukkan kelak dalam makna eskatologis dalam Kerajaan Sorga yang akan datang namun akan terjadi sekarang ini bagi setiap orang percaya. 
Menundukkan diri pada kehendak Allah adalah langkah awal memiliki Kerajaan Sorga dan membuat kita menjadi milik Allah.  Kerajaan  Allah hanya dapat kita miliki saat kita menyadari bahwa kita sepenuhnya tidak beradaya tanpa Allah dan terus menerus belajar untuk percaya dan taat kepada-Nya (Gal. 2:20).


    II.            Rela Memikul Beban
Matius 5:4 - Maka,rioi oi` penqou/ntej\ o[ti auvtoi. paraklhqh,sontaiÃ… (Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.)
Orang yang berdukacita (oi` penqou/ntej).  Kata makarioi harus selalu dipahami sebagai suatu perubahan rohani dalam diri seseorang.  Jadi mereka yang berdukacita akan diberkati dan memperoleh suatu perubahan dalam kerohaniannya.  Orang yang berdukacita, tidak boleh dipahami sebagai suatu kelompok orang tertentu yang sedang berdukacita tetapi  lebih pada karakter murid dan pengikut Kristus yang dengan kerelaan menanggung dukacita karena beban yang diletakkan di pundaknya.
Penting sekali memahami makna kata “berdukacita” atau penqou/ntej disini.  Kata ini dalam bahasa aslinya memiliki arti “berdukacita secara mendalam,” (dalam Septuaginta kata ini digunakan untuk menggambarkan dukacita yang dialami Yakub ketika dia mengira bahwa Yusuf telah mati – Kej. 37:34).
Ada beberapa penafsiran tentang untuk apa kita ini harus berdukacita. Pertama, kita berduka cita oleh karena pengalaman yang sangat pahit dalam hidup. Kedua, kita berdukacita oleh karena situasi dan keadaan dimana kita berada sekarang ini seperti, kemiskinan, pengangguran, perang, kelaparan, bencana alam, sakit penyakit, dsb.  Ketiga, dan ini yang paling sesuai dengan tema utama dari Ucapan Bahagia adalah berdukacita oleh karena dosa-dosa dan ketidaklayakkan dihadapan Allah. Dosa telah membuat begitu banyak penderitaan bukan hanya dalam kehidupan dan sejarah manusia namun juga alam semesta menerima dampak dari akibat dosa.  Yesus  sendiri sangat dipenuhi dengan dukacita yang sangat mendalam oleh karena dosa-dosa – bukan karena dosa yang Dia perbuat tetapi justru dosa kitalah yang ditanggung-Nya (Yes 53:3-4).
Menjadi murid Kristus harus rela memikul beban yang Kristus ijinkan tanggungkan atas kita yaitu jiwa-jiwa yang masih berada dalam perbudakkan dosa. Berdukacita atas dosa-dosa mereka adalah akibat langsung yang mengikuti karakter yang pertama “merendahkan diri.” Pada karakter pertama kita akan berkata “Oh, aku yang hina” namun pada karakter yang kedua ini kita akan berkata, “Oh Terkutuklah, aku dan mereka yang hina!”  Dukacita karena menjadi murid Kristus ini adalah sikap terbuka dan rela hidup dalam pergumulan secara emosional bagi mereka yang belum mengenal Kristus sungguh dalam keadaan terkutuk, terhina dan terbuang secara terus menerus.


Mereka akan dihibur (auvtoi. paraklhqh,sontai).  Dukacita akan berakhir dengan penghiburan ketika dukacita itu justru membawa seseorang kepada Kristus, bahkan sorga pun bersoraksorai karenanya (Luk. 15:7, 10; bdg. Mat. 18:12-14).  Injil Kristus adalah satu-satunya sumber penghiburan sejati bagi mereka yang menderita karena dosa (Yes. 61:1-3; Luk. 4:16-21).  Penghiburan ini dimulai pada saat sekarang ini meskipun akan mencapai puncaknya pada kehidupan dalam kekekalan kelak. Janji-Nya bagi mereka yang rela menanggung dukacita bukan karena kesalahan sendiri ataupun keadaan yang sedang terjadi melainkan karena memikul beban yang Kristus ijinkan akan segera dihiburkan.