Institute for Excellence in Global Christian Leadership
Institute for Excellence in Global Christian Leadership (IEGCL) adalah sebuah sarana untuk mengembangkan potensi kepemimpinan yang suksesful bagi anak-anak Tuhan sehingga kebutuhan akan pemimpin Kristen yang visionair, berintegritas, berwawasan global dan cerdas dapat terwujud.
Senin, 21 Juli 2014
Minggu, 04 Mei 2014
KEPEMIMPINAN TRANSAKSIONAL
Para pemimpin Kristen harus memiliki wawasan yang luas tentang teori-teori kepemimpinan yang didasarkan pada riset bukan didasarkan pada pengalaman seseorang atau cerita tentang “ apa yang telah berhasil saya lakukan.” Karena riset kepemimpinan akan menghasilkan suatu kebenaran yang lebih luas dan universal, bukan hanya apa yang berhasil dilakukan di sebuah ruang lingkup yang sempit dan terbatas. Salah satu bagian penelitian dalam kepemimpinan yang menjadi favorit adalah penelitian pada bidang yang menekankan pada hubungan interaksi antara pihak pemimpin dan pihak mereka yang dipimpin (bawahan), serta pengaruhnya terhadap masing-masing pihak. Teori-teori kepemimpinan yang paling menonjol dalam bidang ini adalah Leader-Member Exchange Teory (LMX) , Transactional Leadership , Transformational Leadership dan Servant Leadership. Dalam tulisan ini, penulis hanya akan membahas penerapan teori kepemimpinan transaksional dan transformasional dalam kepemimpinan Kristen.
Tugas utama dari para pemimpin transaksional adalah menolong mereka yang dibawahnya untuk mengidentifikasi sasaran yang harus diselesaikan, sebagaimana teori Path-goal Model Leadership. Meskipun proses pertukaran ini kadang-kadang sederhana, namun terkadang kepemimpinan transaksional ini bisa menjadi sangat rumit dan termasuk didalamnya melibatkan bagaimana pemimpin menolong mereka yang dipimpinnya untuk mengidentifikasi bukan hanya apa yang harus diselesaikan namun juga bagaimana memotivasi bawahannya untuk mencapai kesuksesan. Kepemimpinan transaksional muncul tatkala reward atau punishment dilakukan oleh pemimpin atas bawahannya sebagai akibat dari kinerja mereka.
Kepemimpinan transaksional sangat bergantung pada penguatan terus-menerus, baik reward berlanjut yang bersifat positif (CR/Contingent Reward) atau bentuk aktif atau pasif dari manajemen dengan pengecualian (management-by-exception) baik aktif maupun pasif. Komponen dalam kepemimpinan transaksional sebagai berikut:
1.CONTINGENT REWARD (CR).
Transaksi konstruktif ini terbukti efektif dalam memotivasi orang lain untuk mencapai kinerja tertinggi mereka. Kepemimpinan Contingent Reward melibatkan pemberian pekerjaan oleh pemimpin atau menambah persetujuan pengikut atas kebutuhan apa yang harus dituntaskan dengan janji atau reward aktual yang ditawarkan dalam pertukarannya dengan derajat kepuasan yang muncul dari pekerjaan tersebut. Contoh item untuk mengukur Contingent Reward adalah “Pemimpin menjelaskan apa yang orang bisa peroleh jika tujuan dari kinerja dicapai.”
2. MANAGEMENT-BY-EXCEPTION (MBE).
MBE terdiri atas Management-by-Exception Aktif (MBE-A) dan Management-by-Exception Pasif (MBE-P). Dalam MBE-A, pemimpin secara aktif merancang perangkat guna memantau penyelewengan dari standard, kesalahan, dan error yang ditunjukkan oleh pengikut untuk selanjutnya dilakukan langkah-langkah perbaikan. Dalam MBE-P, pemimpin secara pasif menunggu terjadinya penyelewengan, kesalahan, dan error untuk muncul terlebih dahulu baru kemudian mengambil langkah perbaikan. MBE-A efektif untuk dilakukan dalam situasi pekerjaan yang penuh bahaya. MBE-P efektif untuk dilakukan tatkala pemimpin membawahi pengikut yang cukup banyak dan mereka melakukan pelaporan kepadanya. Contoh item MBE-A adalah “Pemimpin mengarahkan perhatian agar kesalahan yang terjadi diperbaiki hingga sesuai dengan yang diharapkan.” Contoh item MBE-P adalah “Pemimpin tidak akan mengambil tindakan hingga keluhan diterima oleh mereka.”
Gagagasan ini membuat orang Kristen secara khusus terbuka terhadap prinsip-prinsip kepemimpinan transaksional. Berikut dua implikasi kepemiminan transaksional dalam kepemimpinan Kristen:
1. Para pemimpin Kristen seringkali cenderung hanya memberikan penghargaan berupa keuangan kepada para pengikutnya (kecuali memang staf profesional). Penghargaan lain yang ditawarkan sering kali hanya bersifat intrinsik, tidak berwujud, dan kadang-kadang ditunda dibanding dengan penghargaan sejenis upah atau gaji. Jika memang itu yang terjadi, maka gereja justru akan kehilangan keunikkannya. Bagi banyak aktivis gereja pada umumnya memahami bentuk penghargaan tidaklah semata-mata mengharapkan penghargaan dalam bentuk uang atas bakti kerja mereka. Seringkali pekerjaan pelayanan gereja justru bukan didasarkan pada keuangan semata namun lebih kepada motivasi bagaimana mengaktualisasi diri mereka, pengabdian diri, memberi kontribusi pada kekekalan, atau membuat dunia ini menjadi lebih baik. Para pemimpin Kristen harus lebih memahami hal tersebut dengan lebih cermat karena penghargaan seperti inilah yang tidak dapat diberikan oleh komunitas apapun diluar gereja.
2. Pekerjaan pelayanan Kristen harus diberlakukan sebagai suatu pekerjaan yang mendatangkan sebuah penghargaan. Bukan suatu hal yang memalukan untuk mendorong pengikut dengan menawarkan suatu pahala yang besar ketika mereka terlibat dalam pelayanan Kristen secara sukarela seperti menjadi tenaga pengajar sekolah minggu, pengatur parkir kendaraan, membimbing remaja dan pemuda, dsb.
Ir. N. Eka Pradana, M.Th., adalah staf pengajar di Sekolah Tinggi Teologi Soteria Purwokerto (STTSP) dalam bidang Dogmatika dan Kepemimpinan Kristen. STTSP adalah sekolah yang dirikan oleh Pdt. Pilipus Budiprayitno Gembala Sidang Gereja Bethel Tabernakel Yesus Juruselamat Purwokerto . Instruktur dalam pembedayaan kepemimpinan Kristen bagi mahasiswa dan anak muda Kristen.
Rabu, 16 April 2014
Rabu, 08 Juni 2011
Kepemimpinan Kristen: Pandangan tentang Teori Kepemimpinan Karismatik
Kepemimpinan karismatik adalah suatu istilah yang umum dalam bidang manajemen, yang pertama kali diperkenalkan oleh Max Weber. Sebagai seorang sosiolog Jerman, Weber menjelaskan para pemimpin tertentu memiliki kualitas pengecualian-sebuah karisma-yang memampukan mereka untuk memotivasi pengikut mereka untuk mencapai penampilan terbaik mereka. Charisma sendiri berasal dari kata Yunani yang berarti “karunia yang diberikan oleh para dewa.”
Robert House (1997) telah mempelajari motivasi psikologis dibalik kepemimpinan transformasional (mengubahkan) dan mengamati bahwa karisma adalah aspek utama seorang pemimpin yang mengubahkan. House menggunakan empat ungkapan untuk menjelaskan kepemimpinan karismatik, yaitu:
1. Dominan
2. Memiliki keinginan kuat untuk mempengaruhi orang lain
3. Percaya diri
4. Memiliki kepkaan yang kuat tenatng nilai-nilai moral seseorang
Jay Conger (1989) mengusulkan empat tahap model terjadinya kepemimpinan karismatik:
1. Teruji secara berkesinambungan dari lingkungannya untuk merumuskan apa yang harus dilakukan atau meneguhkan sasaran.
2. Mengkomunikasikan visi mereka, menggunakan argumen yang membangun dan mendorong.
3. Membangun kepercayaan dan komitmen.
4. Ketokohan, pemberdayaan, dan cara-cara yang tidak lazim.
Kepemimpinan karismatik pada umumnya membangun tindakan melalui ideologi, visi atau krisis. Mereka biasanya menjadi pahlawan bagi pengikut, karyawan dan kadang-kadang suatu bangsa. Bahayanya adalah mereka cenderung otoriter, kebutuhan yang kuat untuk mengendalikan orang lain dan ketergantungan yang penuh dari pengikutnya. Kelemahan pribadi lainnya dari kepemimpinan karismatik adalah seperti kecenderungan narsis, gagal untuk mendelegasikan tugas, tidak dapat ditebak, dan tidak peka pada orang lain yang dapat menyebabkan kegagalan kepemimpinannya.
Implikasi bagi kepemimpinan gereja
Gereja sering berpendapat bahwa istilah “karisma” dan “kepemimpinan karismatik” adalah istilah rohani. Banyak orang Kristen melihat Tuhan yang memberikan karunia kepemimpinan sebagai karunia rohani bagi gereja. Kepemimpinan tidak dipandang sebagai suatu kedudukan namun sebagai karunia Tuhan yang diberikan kepada seseorang, namun para pemimpin gereja akan segera menjadi ribut bila beberapa orang di dalam gereja mengaku memiliki karunia ini.
Beberapa saran prinsip implikasi teori kepemimpinan karismatik bagi kepemimpinan gereja:
Pertama, pemimpin gereja harus mengatur ulang pandangan mereka tentang karunia rohani kepemimpinan yang disesuaikan dengan karunia-karunia lainnya seperti rasul, nabi, penginjil, pengajar dan gembala. Jika kepemimpinan adalah karunia utama, maka temukan pribadi yang memiliki karunia ini dan buatlah aturan gereja bagaimana penerapan karunia ini.
Kedua, House menjelaskan ciri kepemimpinan karismatik – dominan, berpengaruh, percaya diri, peka dengan nilai-nilai moral. Ini adalah salah satu tipe pemimpin gereja, namun bukanlah tipe yang terbaik. Kepemimpinan jenis ini sangat baik untuk kepemimpinan dalam suatu gerakan pertumbuhna gereja dan kepemimpinan gereja besar (mega church). Dengan menggunakan istilah karismatik bukan berarti pemimpin tipe ini adalah kepemimpinan Kristen. Meskipun, dari sejarah gereja, kita harus mengakui banyak pemimpin gereja yang efektif adalah pemimpin yang memiliki tipe kepemimpinan karismatik.
Ketiga, dapatkah seseorang megembangkan diri menjadi seorang pemimpin karismatik ataukah kita dilahirkan untuk menjadi pemimpin karismatik? Meskipun jenis kepemimpinan seperti ini sangat diperlukan dalam beberapa keadaan namun kepribadian yang tidak memiliki karisma pun masih dapat menjadi pemimpin yang efektif.
Keempat, tipe kepemimpinan karismatik tampaknya dimunculkan dalam situasi krisis. Hal ini juga dapat berarti bahwa seseorang yang tidak memiliki karisma pun dapat menjadi pemimpin karismatik sebagaimana yang dikehendaki oleh situasi lingkungan dimana dia berada.
Kelima, semua tipe kepemimpinan memiliki bahayanya sendiri, tetapi pemimpin karismatik memiliki bahaya yang lebih banyak dari tipe yang lain. Alkitab dan ajaran Kristen banyak mengatakan bahaya dari status kepahlawanan seseorang – dan seringkali ini terkait dengan pemimpin karismatik. Firman Tuhan banyak memperingatkan potensi bahaya pemimpin karismatik seperti kendali yang berlebihan, ketergantungan pengikutnya, kecenderungan narsistik, mementingkan diri sendiri, terlalu percaya diri dan tidak peka terhadap orang lain. Seorang pemimpin dengan tipe karismatik harus ditempatkan dalam keadaan dan peraturan yang mampu mengikis bahaya dari jenis tipe ini (Sharon Drury).
Untuk studi lanjutan:
Bass, B.M. (1985). Leadership Performance Beyond Expectations. New York: Academic Press
Conger, J.A. (1989). The Charismatic Leader. San Fransisco: Josse-Bass
House, R.J. (1977). Leadership: The Cutting Edge. Carbondale: Southern Illinois University Press.