Rabu, 16 April 2014

DELAPAN KARAKTER UTAMAPEMIMPIN KRISTEN
Eksegesis Ucapan Bahagia dalam Matius 5:1-12
Bagian I
Ir. N. Eka Pradana, M.Th.

Pendahuluan
Hanya ada tiga jenis manusia: orang biasa, para ahli dan orang jenius. Orang biasa melakukan apa yang dikatan pada ahli kepada mereka.  para ahli menolong orang-orang untuk menghadapi kenyataan.  Para jenius menciptakan kenyataan baru.  Untuk menjadi seorang pemimpin, kita tidak perlu menjadi seorang jenius, namun menjadi seorang pemimpin cukup menjadi seorang ahli.  Kabar baiknya adalah  kita tidak perlu menjadi seorang jenius untuk memperoleh kesuksesan dalam kepemimpinan.
Menjadi seorang pemimpin bukan hanya harus memiliki kompetensi kepemimpinan seperti kecakapan dalam berkomunikasi secara efektif, memotivasi orang lain, membuat keputusan yang tepat, positif mengelola konflik dan membentuk serta memimpin suatu kelompok.
Menjadi seorang pemimpin Kristen berawal dari pengembangan diri (self improvement) tentang bagaimana memahami diri sendiri, mengatur sasaran yang berarti, dan mengelola waktu secara efektif. Dalam hal memahami diri hal uatama yang terkait dengan diri seorang pemimpin Kristen adalah kepribadian.  Kita bisa mengetahui kepribadaian kita melalui banyak hal seperti tes-tes kepribadian seperti DISC, MBTI, Five Factor Model, dsb.  Kita bisa memiliki salah satu dari itu.  Tetapi salah cara termudah dalam memahami dan mengembangkan kepribadain diri maka para pemimpin Kristen harus belajar dari para ahli dibidang itu.  Yesus Kristus adalah guru dari segala guru dalam hal pengembangan diri terutama dalam hal kepribadian.
Ucapan bahagia adalah kumpulan dari delapan karakter kualitas hidup yang membedakan antara pemimpin Kristen dengan pemimpin-pemimpin non Kristen. Kedelapan ucapan bahagia ini menjelaskan tentang penyataan betapa diberkatinya/beruntungnya  pemimpin Kristen yang dengan rela merendahkan diri mereka sendiri pada kehendak Allah.  Ini bukan berarti ada delapan kelompok orang dengan jenis kelompok tertentu (orang miskin, orang yang berdukacita ,dsb) namun setiap pemimpin Kristen harus mewujudkan setiap karakter ini demi menjadi murid Kristus dan pemimpin Kristen yang efektif. 

Pandangan yang Keliru Tentang Ucapan Bahagia
Dikalangan orang Kristen sendiri ada banyak pandangan yang berbeda  tentang ucapan bahagia. Kelompok pertama, berpendapat bahwa pengajaran Ucapan Bahagia adalah dasar pengambilan keputusan  etis untuk mereka yang masuk dan berada dalam Kerajaan Seribu Tahun kelak dan bukan untuk sekarang ini. Padahal  maksud  Yesus saat mengucapkan pengajaran ini  untuk mempersiapkan para murid-Nya akan penganiayaan yang akan mereka alami.  Sehingga sangat tidak tepat bila ucapan bahagia ini tidak dapat diterapkan pada masa sekarang.
Kelompok kedua, biasanya dianut oleh para para teolog liberal, mereka  sering mengutip Ucapan Bahagia ini untuk menjadi dasar dari pola apa yang sering kali populer dengan istilah social gospel.  Pandangan ini mengajarkan bahwa Injil itu bukanlah Injil seperti yang kita kenal sebagai sebuah berita tentang kemerdekaan dari perbudakan dosa melalui kematian Kristus di kayu salib,  tetapi lebih pada suatu usaha perbaikan keadaan sosial masyarakat yang tertekan sebagai dampak dari kesenjangan dan ketidakadilan sosial dalam masyarakat. Sedangkan kelompok ketiga menganggap Ucapan Bahagia seperti halnya Hukum Taurat. Mereka memperlakukan Ucapan Bahagia sebagai sebuah hukum yang harus ditaati tanpa melihat esendsi dari Ucapan Bahagia itu sendiri.  Mereka mengubah ajaran Yesus kedalam suatu rangkaian perintah dan larangan.  Padahal inti dari Khotbah di Bukit sama sekali tidak mengatakan “Hiduplah seperti yang dikhotbahkan maka kita akan menjadi Kristen” namun lebih pada “Karena kita orang Kristen maka hiduplah seperti apa yang dikhotbahkan.”

Kedelapan karakter yang harus dimiliki oleh para pemimpin Kristen yang terdapat dalam Ucapan Bahagia di Matius 5:1-12  adalah:
1.      Merendahkan Diri
2.      Rela Memikul Beban
3.      Taat pada Kehendak Allah
4.      Mengutamakan Kebenaran
5.      Murah Hati
6.      Memiliki Motivasi yang Murni
7.      Pembawa Damai
8.      Tangguh

Latar Belakang
Matius 5:1-2 - Idw.n de. tou.j o;clouj( avne,bh eivj to. o;roj\ kai. kaqi,santoj auvtou/( prosh/lqon auvtw/| oi` maqhtai. auvtou/\ kai. avnoi,xaj to. sto,ma auvtou/( evdi,dasken auvtou,j( le,gwn( (  Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.  maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: )
Bukit (o;roj) dan Orang Banyak (o;clouj)) – Pada ayat 1, terdapat dua tindakan Yesus yang terjadi secara berurutan “melihat orang banyak ” dan “naiklah Ia ke atas bukit.”  Kata kerja utama disini adalah “naik” (indikatif)  dan sambil naik Yesus juga “melihat” (partisip) kepada orang banyak.  Tindakan utama pada ayat disini adalah Yesus naik ke bukit, ini bukan tindakan sebagai suatu sebab oleh karena Dia melihat orang banyak.  Yesus telah dengan sengaja naik ke bukit sambil melihat kepada orang banyak itu. Menjadi pertanyaan disini adalah: Mengapa Yesus memilih sengaja naik ke bukit bersama para murid-Nya daripada berkumpul bersama orang banyak? Rupanya naik ke bukit adalah kebiasaan Yesus dalam kehidupan pelayanan-Nya (bdg. Luk. 3:13, Luk. 6:12). Popularitas Yesus telah membuat Dia selalu berada ditengah-tengah kerumunan orang banyak dan tentu saja Dia memerlukan waktu khusus yang Dia peruntukkan bagi para murid dan Bapa-Nya.  Dengan naik keatas bukit, Dia mengambil waktu sejenak untuk memisahkan diri dari orang banyak.  Ayat 1 dan 2 jelas sekali menunjukkan bahwa tujuan Yesus naik ke bukit adalah untuk mengajar para murid-Nya. Tidak ada petunjuk yang jelas apakah orang banyak mengikuti Yesus dan mendengar pengajaran-Nya. Mungkin saja orang banyak berada di situ namun pengajaran Yesus secara khusus diperuntukkan kepada murid-murid-Nya.
Ia duduk dan mulai mengajar. Frasa “dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.  maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka ini menjadi sangat penting oleh karena hubungan antara tindakan Yesus yang duduk dan kemudian mengajar para murid-Nya. Kata duduk (kaqi,santoj) mengindikasikan bahwa tindakan Yesus duduk itu seolah-olah merupakan tanda atau isyarat yang ditujukan kepada murid-murid-Nya untuk datang mendekat.  Dan ini telah menjadi kebiasaan dan budaya Yahudi pada waktu itu, para guru dan rabbi selalu mengajar dalam keadaan duduk (Mat. 13:2; Mar. 4:1; Luk. 5:3).  Murid-murid-Nya merespon isyarat ini dengan cepat dan segera datang mendekat kepada Yesus.

       I.            Merendahkan Diri
Matius 5: 3  -  Maka,rioi oi` ptwcoi. tw/| pneu,mati( o[ti auvtw/n evstin h` basilei,a tw/n ouvranw/nÃ…  (Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga).

Berbahagialah maka,rioj (makarios). Setiap kata bahagia pada Ucapan Bahagia (The Beatitudes) berasal dari kata makarios (Yunani) atau asher (Ibrani)  yang berarti diberkati, bahagia dan beruntung yang terjadi secara bersamaan.  Terjemahan bahasa Indonesia lebih memilih kata “bahagia” meskipun itu belum cukup menjelaskan makna kata makarios.  Kata makarios tidak mengajarkan kepada kita bagaimana kita menjadi bahagia, tetapi diberkati.  Diberkati lebih daripada sekedar kebahagiaan karena Ucapan Bahagia sama sekali tidak menjanjikan bahwa mengikut Kristus akan penuh dengan gelak tawa, hal-hal yang menyenangkan secara fisik atau kemakmuran secara duniawi.  Diberkati Allah berarti kita akan mengalami sukacita dan pengharapan, terlepas dari keadaan yang menimpa sekeliling kita.  Kebahagiaan sejati adalah mengikut Kristus berapapun harga yang harus dibayar. Ucapan Bahagia berbicara tentang sukacita yang datang meskipun berada ditengah-tengah penderitan oleh karena sakit, kesedihan, kepedihan, dukacita, atau kehilangan seseorang yang sangat kita cintai (2 Tim. 4:6-8; Fil. 4:4) dan sukacita itu tidak akan pernah diambil dari kita (Yoh. 16:22).

Orang yang miskin dihadapan Allah (oi` ptwcoi. tw/| pneu,mati) – poor in spirit.  LAI menerjemahkan dengan menambahkan miskin dihadapan Allah namun dalam naskah asli secara literal diterjemahkan sebagai miskin dalam roh atau semangat (poor in spirit).  Yesus tidak berbicara tentang  kemiskinan secara duniawi sebagai satu cara mengalami kelimpahan secara rohani.  Namun Dia sedang berbicara tentang  kemiskinan dalam ranah rangka pikir yaitu suatu sikap atau karakter  ketidakberdayaan diri oleh karena lebih tunduk pada kehendak Kristus.  Miskin secara roh (semangat)  adalah  kebalikan dari sikap atau semangat hidup dunia yang selalu mengedepankan ego manusia diatas segalanya.  Semangat yang mengutamakan kehendak dan keinginan pribadi bukan pada keinginan dan kehendak Allah.  Ketika seseorang dengan kesadaran penuh tunduk untuk mengikuti kehendak Allah maka dia secara rohani akan disebut sebagai miskin dalam roh.  Jadi arti teologis yang dimaksud dengan kemiskinan adalah identik dengan ketidakberdayaan ego dengan segala keinginannya dan tunduk  pada kehendak Allah. Miskin secara roh adalah suatu bentuk kesadaran diri tentang suatu keadaan bahwa kita tidak ada apa-apanya dihadapan Allah atau dengan kata lain lenyapnya segala kesombongan dan sikap mengandalkan diri sendiri.  Miskin secara roh tidak berarti kehilangan semangat hidup dan tidak memiliki dorongan untuk menuntaskan tugas yang dibebankan. Justru sebaliknya semangat dan dorongan dialihkan sedemikian rupa untuk memuliakan Tuhan (Fil. 3:13-14).

Karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga (o[ti auvtw/n evstin h` basilei,a tw/n ouvranw/n ).  Hal yang menarik disini adalah kepemilikan Kerajaan Allah bukan suatu bentuk hadiah namun suatu bentuk sebab akibat. Jika setiap orang percaya menyadari bahwa dia “miskin dihadapan Allah” atau menyadari bahwa dia tidak memiliki sesuatu apapun untuk diberikan kepada Allah, bahwa dia secara hakiki adalah orang yang mengalami kebangkrutan secara rohani maka dampak dari bentuk sikap kesadaran ini, dia akan menjadi bagian dari Kerajaan Sorga.
Tense dari kata evstin adalah kata kerja present active, hal ini berarti bahwa kepemilikan Kerajaan Sorga bukan diperuntukkan kelak dalam makna eskatologis dalam Kerajaan Sorga yang akan datang namun akan terjadi sekarang ini bagi setiap orang percaya. 
Menundukkan diri pada kehendak Allah adalah langkah awal memiliki Kerajaan Sorga dan membuat kita menjadi milik Allah.  Kerajaan  Allah hanya dapat kita miliki saat kita menyadari bahwa kita sepenuhnya tidak beradaya tanpa Allah dan terus menerus belajar untuk percaya dan taat kepada-Nya (Gal. 2:20).


    II.            Rela Memikul Beban
Matius 5:4 - Maka,rioi oi` penqou/ntej\ o[ti auvtoi. paraklhqh,sontaiÃ… (Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.)
Orang yang berdukacita (oi` penqou/ntej).  Kata makarioi harus selalu dipahami sebagai suatu perubahan rohani dalam diri seseorang.  Jadi mereka yang berdukacita akan diberkati dan memperoleh suatu perubahan dalam kerohaniannya.  Orang yang berdukacita, tidak boleh dipahami sebagai suatu kelompok orang tertentu yang sedang berdukacita tetapi  lebih pada karakter murid dan pengikut Kristus yang dengan kerelaan menanggung dukacita karena beban yang diletakkan di pundaknya.
Penting sekali memahami makna kata “berdukacita” atau penqou/ntej disini.  Kata ini dalam bahasa aslinya memiliki arti “berdukacita secara mendalam,” (dalam Septuaginta kata ini digunakan untuk menggambarkan dukacita yang dialami Yakub ketika dia mengira bahwa Yusuf telah mati – Kej. 37:34).
Ada beberapa penafsiran tentang untuk apa kita ini harus berdukacita. Pertama, kita berduka cita oleh karena pengalaman yang sangat pahit dalam hidup. Kedua, kita berdukacita oleh karena situasi dan keadaan dimana kita berada sekarang ini seperti, kemiskinan, pengangguran, perang, kelaparan, bencana alam, sakit penyakit, dsb.  Ketiga, dan ini yang paling sesuai dengan tema utama dari Ucapan Bahagia adalah berdukacita oleh karena dosa-dosa dan ketidaklayakkan dihadapan Allah. Dosa telah membuat begitu banyak penderitaan bukan hanya dalam kehidupan dan sejarah manusia namun juga alam semesta menerima dampak dari akibat dosa.  Yesus  sendiri sangat dipenuhi dengan dukacita yang sangat mendalam oleh karena dosa-dosa – bukan karena dosa yang Dia perbuat tetapi justru dosa kitalah yang ditanggung-Nya (Yes 53:3-4).
Menjadi murid Kristus harus rela memikul beban yang Kristus ijinkan tanggungkan atas kita yaitu jiwa-jiwa yang masih berada dalam perbudakkan dosa. Berdukacita atas dosa-dosa mereka adalah akibat langsung yang mengikuti karakter yang pertama “merendahkan diri.” Pada karakter pertama kita akan berkata “Oh, aku yang hina” namun pada karakter yang kedua ini kita akan berkata, “Oh Terkutuklah, aku dan mereka yang hina!”  Dukacita karena menjadi murid Kristus ini adalah sikap terbuka dan rela hidup dalam pergumulan secara emosional bagi mereka yang belum mengenal Kristus sungguh dalam keadaan terkutuk, terhina dan terbuang secara terus menerus.


Mereka akan dihibur (auvtoi. paraklhqh,sontai).  Dukacita akan berakhir dengan penghiburan ketika dukacita itu justru membawa seseorang kepada Kristus, bahkan sorga pun bersoraksorai karenanya (Luk. 15:7, 10; bdg. Mat. 18:12-14).  Injil Kristus adalah satu-satunya sumber penghiburan sejati bagi mereka yang menderita karena dosa (Yes. 61:1-3; Luk. 4:16-21).  Penghiburan ini dimulai pada saat sekarang ini meskipun akan mencapai puncaknya pada kehidupan dalam kekekalan kelak. Janji-Nya bagi mereka yang rela menanggung dukacita bukan karena kesalahan sendiri ataupun keadaan yang sedang terjadi melainkan karena memikul beban yang Kristus ijinkan akan segera dihiburkan.  

Tidak ada komentar: