DELAPAN KARAKTER UTAMAPEMIMPIN
KRISTEN
Eksegesis Ucapan
Bahagia dalam Matius 5:1-12
Bagian I
Ir. N. Eka Pradana,
M.Th.
Pendahuluan
Hanya ada tiga jenis manusia: orang biasa, para ahli dan orang jenius. Orang biasa melakukan apa yang dikatan pada ahli kepada mereka. para ahli menolong orang-orang untuk menghadapi kenyataan. Para jenius menciptakan kenyataan baru. Untuk menjadi seorang pemimpin, kita tidak perlu menjadi seorang jenius, namun menjadi seorang pemimpin cukup menjadi seorang ahli. Kabar baiknya adalah kita tidak perlu menjadi seorang jenius untuk memperoleh kesuksesan dalam kepemimpinan.
Menjadi seorang pemimpin bukan hanya harus memiliki kompetensi kepemimpinan seperti kecakapan dalam berkomunikasi secara efektif, memotivasi orang lain, membuat keputusan yang tepat, positif mengelola konflik dan membentuk serta memimpin suatu kelompok.
Menjadi seorang pemimpin Kristen berawal dari pengembangan diri (self improvement) tentang bagaimana memahami diri sendiri, mengatur sasaran yang berarti, dan mengelola waktu secara efektif. Dalam hal memahami diri hal uatama yang terkait dengan diri seorang pemimpin Kristen adalah kepribadian. Kita bisa mengetahui kepribadaian kita melalui banyak hal seperti tes-tes kepribadian seperti DISC, MBTI, Five Factor Model, dsb. Kita bisa memiliki salah satu dari itu. Tetapi salah cara termudah dalam memahami dan mengembangkan kepribadain diri maka para pemimpin Kristen harus belajar dari para ahli dibidang itu. Yesus Kristus adalah guru dari segala guru dalam hal pengembangan diri terutama dalam hal kepribadian.
Ucapan bahagia adalah kumpulan dari delapan karakter kualitas hidup yang membedakan antara pemimpin Kristen dengan pemimpin-pemimpin non Kristen. Kedelapan ucapan bahagia ini menjelaskan tentang penyataan betapa diberkatinya/beruntungnya pemimpin Kristen yang dengan rela merendahkan diri mereka sendiri pada kehendak Allah. Ini bukan berarti ada delapan kelompok orang dengan jenis kelompok tertentu (orang miskin, orang yang berdukacita ,dsb) namun setiap pemimpin Kristen harus mewujudkan setiap karakter ini demi menjadi murid Kristus dan pemimpin Kristen yang efektif.
Pandangan yang Keliru
Tentang Ucapan Bahagia
Dikalangan
orang Kristen sendiri ada banyak pandangan yang berbeda tentang ucapan bahagia. Kelompok pertama,
berpendapat bahwa pengajaran Ucapan Bahagia adalah dasar pengambilan keputusan etis untuk mereka yang masuk dan berada dalam
Kerajaan Seribu Tahun kelak dan bukan untuk sekarang ini. Padahal maksud Yesus saat mengucapkan pengajaran ini untuk mempersiapkan para murid-Nya akan
penganiayaan yang akan mereka alami.
Sehingga sangat tidak tepat bila ucapan bahagia ini tidak dapat
diterapkan pada masa sekarang.
Kelompok
kedua, biasanya dianut oleh para para teolog liberal, mereka sering mengutip Ucapan Bahagia ini untuk
menjadi dasar dari pola apa yang sering kali populer dengan istilah social gospel. Pandangan ini mengajarkan bahwa Injil itu
bukanlah Injil seperti yang kita kenal sebagai sebuah berita tentang
kemerdekaan dari perbudakan dosa melalui kematian Kristus di kayu salib, tetapi lebih pada suatu usaha perbaikan
keadaan sosial masyarakat yang tertekan sebagai dampak dari kesenjangan dan
ketidakadilan sosial dalam masyarakat. Sedangkan kelompok ketiga menganggap
Ucapan Bahagia seperti halnya Hukum Taurat. Mereka memperlakukan Ucapan Bahagia
sebagai sebuah hukum yang harus ditaati tanpa melihat esendsi dari Ucapan
Bahagia itu sendiri. Mereka mengubah
ajaran Yesus kedalam suatu rangkaian perintah dan larangan. Padahal inti dari Khotbah di Bukit sama
sekali tidak mengatakan “Hiduplah seperti yang dikhotbahkan maka kita akan
menjadi Kristen” namun lebih pada “Karena kita orang Kristen maka hiduplah
seperti apa yang dikhotbahkan.”
Kedelapan
karakter yang harus dimiliki oleh para pemimpin Kristen yang terdapat dalam
Ucapan Bahagia di Matius 5:1-12 adalah:
1. Merendahkan
Diri
2. Rela
Memikul Beban
3. Taat
pada Kehendak Allah
4. Mengutamakan
Kebenaran
5. Murah
Hati
6. Memiliki Motivasi
yang Murni
7. Pembawa
Damai
8. Tangguh
Latar
Belakang
Matius 5:1-2 - Idw.n
de. tou.j o;clouj( avne,bh eivj to. o;roj\ kai. kaqi,santoj auvtou/( prosh/lqon auvtw/| oi`
maqhtai. auvtou/\ kai. avnoi,xaj to. sto,ma auvtou/( evdi,dasken auvtou,j(
le,gwn( ( Ketika
Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk,
datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka,
kata-Nya: )
Bukit (o;roj) dan Orang
Banyak (o;clouj)) – Pada ayat 1, terdapat dua tindakan Yesus yang terjadi
secara berurutan “melihat orang banyak ” dan “naiklah Ia ke atas bukit.” Kata kerja utama disini adalah “naik”
(indikatif) dan sambil naik Yesus juga
“melihat” (partisip) kepada orang banyak.
Tindakan utama pada ayat disini adalah Yesus naik ke bukit, ini bukan tindakan sebagai suatu sebab oleh karena
Dia melihat orang banyak. Yesus telah dengan sengaja naik ke bukit
sambil melihat kepada orang banyak itu. Menjadi pertanyaan disini adalah:
Mengapa Yesus memilih sengaja naik ke bukit bersama para murid-Nya daripada
berkumpul bersama orang banyak? Rupanya naik ke bukit adalah kebiasaan Yesus
dalam kehidupan pelayanan-Nya (bdg. Luk. 3:13, Luk. 6:12). Popularitas Yesus
telah membuat Dia selalu berada ditengah-tengah kerumunan orang banyak dan
tentu saja Dia memerlukan waktu khusus yang Dia peruntukkan bagi para murid dan
Bapa-Nya. Dengan naik keatas bukit, Dia
mengambil waktu sejenak untuk memisahkan diri dari orang banyak. Ayat 1 dan 2 jelas sekali menunjukkan bahwa
tujuan Yesus naik ke bukit adalah untuk mengajar para murid-Nya. Tidak ada
petunjuk yang jelas apakah orang banyak mengikuti Yesus dan mendengar
pengajaran-Nya. Mungkin saja orang banyak berada di situ namun pengajaran Yesus
secara khusus diperuntukkan kepada murid-murid-Nya.
Ia duduk dan mulai mengajar. Frasa “dan setelah Ia duduk, datanglah
murid-murid-Nya kepada-Nya. maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka” ini menjadi sangat
penting oleh karena hubungan antara tindakan Yesus yang duduk dan kemudian
mengajar para murid-Nya. Kata duduk (kaqi,santoj) mengindikasikan bahwa tindakan Yesus duduk itu
seolah-olah merupakan tanda atau isyarat yang ditujukan kepada murid-murid-Nya
untuk datang mendekat. Dan ini telah menjadi
kebiasaan dan budaya Yahudi pada waktu itu, para guru dan rabbi selalu mengajar
dalam keadaan duduk (Mat. 13:2; Mar. 4:1; Luk. 5:3). Murid-murid-Nya merespon isyarat ini dengan
cepat dan segera datang mendekat kepada Yesus.
I.
Merendahkan Diri
Matius 5: 3 - Maka,rioi oi` ptwcoi. tw/|
pneu,mati( o[ti auvtw/n evstin h` basilei,a tw/n ouvranw/nÃ… (Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena
merekalah yang empunya Kerajaan Sorga).
Berbahagialah – maka,rioj (makarios).
Setiap
kata bahagia pada Ucapan Bahagia (The Beatitudes) berasal dari kata makarios (Yunani) atau asher (Ibrani) yang berarti diberkati, bahagia dan beruntung
yang terjadi secara bersamaan.
Terjemahan bahasa Indonesia lebih memilih kata “bahagia” meskipun itu
belum cukup menjelaskan makna kata makarios. Kata makarios tidak mengajarkan kepada kita
bagaimana kita menjadi bahagia, tetapi diberkati. Diberkati lebih daripada sekedar kebahagiaan
karena Ucapan Bahagia sama sekali tidak menjanjikan bahwa mengikut Kristus akan
penuh dengan gelak tawa, hal-hal yang menyenangkan secara fisik atau kemakmuran
secara duniawi. Diberkati Allah berarti
kita akan mengalami sukacita dan pengharapan, terlepas dari keadaan yang
menimpa sekeliling kita. Kebahagiaan
sejati adalah mengikut Kristus berapapun harga yang harus dibayar. Ucapan
Bahagia berbicara tentang sukacita yang datang meskipun berada ditengah-tengah
penderitan oleh karena sakit, kesedihan, kepedihan, dukacita, atau kehilangan
seseorang yang sangat kita cintai (2 Tim. 4:6-8; Fil. 4:4) dan sukacita itu
tidak akan pernah diambil dari kita (Yoh. 16:22).
Orang
yang miskin dihadapan Allah (oi` ptwcoi. tw/| pneu,mati)
– poor in spirit. LAI menerjemahkan
dengan menambahkan miskin dihadapan Allah namun dalam naskah asli secara
literal diterjemahkan sebagai miskin dalam roh atau semangat (poor in
spirit). Yesus tidak berbicara
tentang kemiskinan secara duniawi sebagai
satu cara mengalami kelimpahan secara rohani.
Namun Dia sedang berbicara tentang
kemiskinan dalam ranah rangka pikir yaitu suatu sikap atau karakter ketidakberdayaan diri oleh karena lebih
tunduk pada kehendak Kristus. Miskin secara
roh (semangat) adalah kebalikan dari sikap atau semangat hidup dunia
yang selalu mengedepankan ego manusia diatas segalanya. Semangat yang mengutamakan kehendak dan
keinginan pribadi bukan pada keinginan dan kehendak Allah. Ketika seseorang dengan kesadaran penuh
tunduk untuk mengikuti kehendak Allah maka dia secara rohani akan disebut
sebagai miskin dalam roh. Jadi arti
teologis yang dimaksud dengan kemiskinan adalah identik dengan ketidakberdayaan
ego dengan segala keinginannya dan tunduk
pada kehendak Allah. Miskin secara roh adalah suatu bentuk kesadaran
diri tentang suatu keadaan bahwa kita tidak ada apa-apanya dihadapan Allah atau
dengan kata lain lenyapnya segala kesombongan dan sikap mengandalkan diri
sendiri. Miskin secara roh tidak berarti
kehilangan semangat hidup dan tidak memiliki dorongan untuk menuntaskan tugas
yang dibebankan. Justru sebaliknya semangat dan dorongan dialihkan sedemikian
rupa untuk memuliakan Tuhan (Fil. 3:13-14).
Karena merekalah yang empunya
Kerajaan Sorga (o[ti
auvtw/n evstin h` basilei,a tw/n ouvranw/n
). Hal yang menarik disini adalah
kepemilikan Kerajaan Allah bukan suatu bentuk hadiah namun suatu bentuk sebab
akibat. Jika setiap orang percaya menyadari bahwa dia “miskin dihadapan Allah”
atau menyadari bahwa dia tidak memiliki sesuatu apapun untuk diberikan kepada
Allah, bahwa dia secara hakiki adalah orang yang mengalami kebangkrutan secara
rohani maka dampak dari bentuk sikap kesadaran ini, dia akan menjadi bagian
dari Kerajaan Sorga.
Tense dari kata evstin adalah kata kerja present active, hal ini berarti bahwa
kepemilikan Kerajaan Sorga bukan diperuntukkan kelak dalam makna eskatologis
dalam Kerajaan Sorga yang akan datang namun akan terjadi sekarang ini bagi
setiap orang percaya.
Menundukkan diri pada kehendak
Allah adalah langkah awal memiliki Kerajaan Sorga dan membuat kita menjadi
milik Allah. Kerajaan Allah hanya dapat kita miliki saat kita
menyadari bahwa kita sepenuhnya tidak beradaya tanpa Allah dan terus menerus
belajar untuk percaya dan taat kepada-Nya (Gal. 2:20).
II.
Rela
Memikul Beban
Matius 5:4 - Maka,rioi oi` penqou/ntej\
o[ti auvtoi. paraklhqh,sontaiÃ… (Berbahagialah orang yang
berdukacita, karena mereka akan dihibur.)
Orang yang berdukacita (oi` penqou/ntej). Kata makarioi harus selalu dipahami sebagai
suatu perubahan rohani dalam diri seseorang.
Jadi mereka yang berdukacita akan diberkati dan memperoleh suatu
perubahan dalam kerohaniannya. Orang
yang berdukacita, tidak boleh dipahami sebagai suatu kelompok orang tertentu
yang sedang berdukacita tetapi lebih
pada karakter murid dan pengikut Kristus yang dengan kerelaan menanggung
dukacita karena beban yang diletakkan di pundaknya.
Penting sekali memahami
makna kata “berdukacita” atau penqou/ntej disini. Kata ini
dalam bahasa aslinya memiliki arti “berdukacita secara mendalam,” (dalam
Septuaginta kata ini digunakan untuk menggambarkan dukacita yang dialami Yakub
ketika dia mengira bahwa Yusuf telah mati – Kej. 37:34).
Ada beberapa
penafsiran tentang untuk apa kita ini harus berdukacita. Pertama, kita berduka
cita oleh karena pengalaman yang sangat pahit dalam hidup. Kedua, kita
berdukacita oleh karena situasi dan keadaan dimana kita berada sekarang ini
seperti, kemiskinan, pengangguran, perang, kelaparan, bencana alam, sakit
penyakit, dsb. Ketiga, dan ini yang
paling sesuai dengan tema utama dari Ucapan Bahagia adalah berdukacita oleh
karena dosa-dosa dan ketidaklayakkan dihadapan Allah. Dosa telah membuat begitu
banyak penderitaan bukan hanya dalam kehidupan dan sejarah manusia namun juga
alam semesta menerima dampak dari akibat dosa.
Yesus sendiri sangat dipenuhi
dengan dukacita yang sangat mendalam oleh karena dosa-dosa – bukan karena dosa
yang Dia
perbuat tetapi justru dosa kitalah yang ditanggung-Nya (Yes 53:3-4).
Menjadi murid Kristus harus rela memikul
beban yang Kristus ijinkan tanggungkan atas kita yaitu jiwa-jiwa yang masih
berada dalam perbudakkan dosa. Berdukacita atas dosa-dosa mereka adalah akibat
langsung yang mengikuti karakter yang pertama “merendahkan diri.” Pada karakter
pertama kita akan berkata “Oh, aku yang hina” namun pada karakter yang kedua
ini kita akan berkata, “Oh Terkutuklah, aku dan mereka yang hina!” Dukacita karena menjadi murid Kristus ini adalah
sikap terbuka dan rela hidup dalam pergumulan secara emosional bagi mereka yang
belum mengenal Kristus sungguh dalam keadaan terkutuk, terhina dan terbuang
secara terus menerus.
Mereka
akan dihibur (auvtoi. paraklhqh,sontai). Dukacita akan berakhir dengan penghiburan
ketika dukacita itu justru membawa seseorang kepada Kristus, bahkan sorga pun
bersoraksorai karenanya (Luk. 15:7, 10; bdg. Mat. 18:12-14). Injil Kristus adalah satu-satunya sumber
penghiburan sejati bagi mereka yang menderita karena dosa (Yes. 61:1-3; Luk.
4:16-21). Penghiburan ini dimulai pada
saat sekarang ini meskipun akan mencapai puncaknya pada kehidupan dalam
kekekalan kelak. Janji-Nya bagi mereka yang rela menanggung dukacita bukan
karena kesalahan sendiri ataupun keadaan yang sedang terjadi melainkan karena
memikul beban yang Kristus ijinkan akan segera dihiburkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar