PELUANG
GEREJA LOKAL DALAM MENGEMBANGKAN
PEMIMPIN KRISTEN GENERASI KEMUDIAN
Oleh
Pdt. Ir. N Eka Pradana,
M.Th
Rontoknya peluang orang-orang Kristen
untuk duduk sebagai wakil rakyat dan pemimpin di Pemilu 2014 lalu sangat
memprihatinkan komunitas Kristen di Indonesia. Partai-partai politik yang
berbasiskan kekristenan di Indonesia yang didirikan sebagai kendaraan politik
pun mengalami hal sama. Pemilu tahun ini menjadi pelajaran sangat berharga tentang
betapa pentingnya hikmat dalam mempersiapkan para pemimpin Kristen bagi
Indonesia di masa datang. Dari pada meratapi nasi yang telah menjadi
bubur alangkah baiknya kita mulai mempersiapkan para calon pemimpin Kristen
dari sekarang. Tetapi sebelum kita melangkah jauh terlebih dahulu
memahami ancaman suatu gerakan kekristenan baik secara eksternal maupun
internal..
Ancaman
Eksternal
Secara eksternal paling tidak ada empat
ancaman serangan utama yang harus diwaspadai, pertama adalah penggembosan.
. Sasaran utama dari serangan ini adalah menghancurkan kekuatan dengan cara
membagi-bagi kekuatan tersebut ke dalam bagian-bagian yang kecil. Pola
umum yang digunakan adalah mempengaruhi para pemimpin Kristen yang memiliki
pengaruh untuk mendirikan kendaraan politik atau organisasi sendiri dengan
tujuan dapat ditunggangi dan sekaligus dikendalikan.
Kedua adalah pengkerdilan,
serangan ini ditujukan untuk memasung peranan para pemimpin Kristen yang telah
mendapatkan kesempatan duduk dalam struktur kepemimpinan. Pola yang umum
digunakan adalah dengan meletakkan para pemimpin Kristen di tempat yang kurang
ataupun sama sekali tidak strategis dalam pengambilan kebijakan.
Ketiga adalah
peminggiran, serangan ini ditujukan untuk menutup setiap kesempatan
gerakan kekristenan untuk berkarya dan memberi dampak. Kehadiran para
pemimpin gerakan Kristen masih dimungkinkan untuk hidup tetapi tidak memiliki
kesempatan sama sekali.
Keempat adalah penumpasan, serangan ini
adalah serangan pamungkas untuk menghancurkan secara total semua potensi dan
sumber daya gerakan maupun pemimpin Kristen (Tentu masih segar dalam ingatan
kita apa yang dilakukan oleh Herodes ketika membunuhi bayi-bayi di bawah 2
tahun di Betlehem dan sekitarnya, 2000 tahun yang lalu).
Ancaman
Internal
Secara internal paling tidak ada tiga
ancaman yang sangat fatal dalam setiap gerakan kekristenan. Yang pertama
adalah lemahnya paradigma dalam membangun suatu pergerakan. Bercokolnya
faham fatalisme adalah salah satu penyebab utama mengapa suatu gerakan tidak
pernah berkembang dengan sempurna. Faham ini menekankan bahwa kita tidak
dapat melakukan apa-apa karena semua telah ditentukan oleh Allah. Alih-alih
dijadikan sebagai motor penggerak, kasih karunia Allah disikapi dengan
kepasrahan dan alasan untuk tidak melakukan apa-apa. Ini terbukti dengan
banyak pemimpin gereja yang masih menganut teori kepemimpinan Great
Man Theory. Teori ini digolongkan dalam
kelompok teori kepemimpinan purba yang sudah dianggap usang dan tidak pernah
digunakan dalam polemik kepemimpinan. Teori ini mengatakan bahwa
pemimpin itu dipilih dan dikaruniakan kepada umat oleh Tuhan sendiri.
Umat tidak perlu berbuat apa-apa.
Kedua, kekurangan swa-pemberdayaan
(lack of self-empowering), ancaman ini lebih disebabkan oleh karena
dampak negatif dari kekurangdewasaan.gereja. Meskipun karakteristik kedewasaan suatu
gereja masih diperdebatkan tetapi dampaknya sangat jelas yaitu, sikap sinis
terhadap segala sesuatu yang baru, tidak bisa mentertawakan kritik
yang ditujukan pada kita, ketidaknyamanan yang akut dan
ketidakmampuan menghadapi krisis yang dialami.
Paul G. Stolzt dalam bukunya Adversity
Quotient menyebutkan tiga tanggapan yang biasa terjadi dalam menghadapi
krisis. Pertama, memutuskan untuk menghentikan segala sesuatu tanpa alasan yang
jelas (Quitters). Kedua, maju beberapa langkah tetapi kemudian
setelah menemukan tempat yang nyaman memutuskan untuk berhenti (Campers).
Ketiga, hidup harus maju dan berkarya meskipun menghadapi krisis (Climbers).
Alih-alih menunggu ketidakjelasan, gereja harus bangkit memberdayakan diri
untuk mengubah tantangan atau krisis menjadi peluang dan kesempatan untuk
naik lebih tinggi.
Ancaman ketiga adalah langkanya jejaring
(lack of networking). Ada dua hal penyebab utama langkanya
jejaring antar gereja yaitu eklusifisme dan sempitnya pemaknaan Tubuh
Kristus. Ada berbagai alasan yang membentuk gereja menjadi eklusif dan
menolak berjejaring, mulai dari hal praktis hingga teologis.
Eksklusifisme yang dibangun baik secara sadar maupun tidak telah mendorong
gereja lebih tertutup terhadap sesama gereja. Hal kedua adalah pemaknaan
Tubuh Kristus yang sempit. Pemaknaan teologis yang seharusnya membuka wawasan
justru berbalik menutup pintu pencerahan. Itulah yang menjadi salah satu
sebab gagal tumbuhnya jejaring antar gereja. Gereja-gereja di
Indonesia harus berjejaring dan bekerjasama mempersiapkan pemimpin Kristen di
masa datang (bdg. Mukjizat yang dialami oleh orang lumpuh
karena kerjasama empat orang yang mengusungnya di hadapan Yesus dengan cara
membongkar atap dalam Markus 2: 1-12).
Ketiga kelemahan internal membuat gereja
rentan terhadap ancaman eksternal di satu sisi dan juga melemahkan gereja
sebagai wahana pengembangan dan pertumbuhan calon pemimpin Kristen di masa
depan di sisi yang lain. Tetapi tugas mempersiapkan calon pemimpin
menjadi kebutuhan yang mendesak bagi komunitas Kristen di Indonesia. Kita
tidak perlu terintimidasi oleh ancaman serangan eksternal dan pesimis dengan
kelemahan diri. Sejarah kekristenan telah membuktikan bahwa gereja
memiliki pengalaman yang cukup dalam menghadapinya dan gereja tetap berdiri
kokoh hingga hari ini. Hal yang perlu dilakukan sekarang adalah menutup
kelemahan utama diri kita sambil terus waspada menghadapi ancaman serangan.
Mempersiapkan
Pemimpin Kristen Sejak Usia Dini
Bagaimana kita mempersiapkan para pemimpin Kristen
di masa datang? Akankah kita hanya menunggu paket kiriman pemimpin dari
Tuhan? Daripada menunggu paket kiriman yang tidak jelas kapan
datangnya, saya menyarankan kita dengan segera untuk mempersiapkan para
pemimpin Kristen sejak usia dini. Mempersiapkan pemimpin itu seperti
mempersiapkan seorang atlet juara bukan hanya kecakapan saja yang dipersiapkan
tetapi yang lebih utama adalah menjadikan atlet tersebut memiliki mental
juara. Untuk itu pembinaan atlet harus dimulai dari usia dini.
Demikian juga dengan pemimpin Kristen, jika kita ingin memiliki pemimpin
Kristen berskala dunia atau paling tidak nasional maka kita harus membina dan
mempersiapkan mereka sejak usia dini.
Contoh di masa lalu tentang bagaimana
mempersiapkan seorang pemimpin sejak usia dini adalah pemimpin gereja yang
bernama Timotius. Ia menjadi seorang pemimpin gereja mula-mula di bawah
bimbingan rasul hebat, Paulus. Tetapi sebelum bertemu dengan Paulus, ia
telah dididik dengan sangat intens oleh ibunya Eunike dan neneknya Lois yang
adalah orang Yahudi. Untuk masa sekarang mungkin kita bisa mengacu pada
keluarga Kennedy di Amerika Serikat. Keluarga ini telah memberikan
sumbangan yang sangat besar bagi kepemimpinan bangsa di AS. Dimulai dari
JFK (John F Kennedy) yang tewas ditembak di awal 1960-an, mereka terus berkarya
dalam kepemimpinan AS hingga Ted Kennedy yang baru saja meninggal. Yang
tidak boleh dilupakan dalam keluarga ini adalah peran dari Rose Kennedy, ibunda
JFK, yang sangat serius mempersiapkan anak-anak dan cucu-cucunya untuk menjadi
pemimpin yang bertaraf nasional maupun internasional.
Mengembangkan
Aspek Doing dan Being Kepemimpinan Kristen.
Mempersiapkan pemimpin pada umumnya dibagi
dalam dua aspek utama yaitu doing aspect (behaviour, skill, practices) dan
being aspect (self, framing, character, alignment). Lembaga-lembaga
pendidikan umum, lembaga pelayanan mahasiswa Kristen dan sekolah-sekolah
teologi pada umumnya menekanan pada doing aspect dan kurang menekankan
pada being aspect.. Peran lembaga-lembaga ini telah terbukti cukup
signifikan untuk mempersiapkan para pemimpin Kristen dengan hasil seperti
sekarang ini. Tetapi kita memerlukan para pemimpin Kristen yang memiliki
kaliber yang lebih besar sehingga dampak yang ditimbulkannya pun
akan lebih luas.
Mengapa peranan lembaga disebut di atas
tidak dapat menghasilkan para pemimpin yang kita perlukan? Salah satu sebab
utama oleh karena lembaga-lembaga tersebut hanya dapat melakukan finishing
touch dalam mempersiapkan pemimpin Kristen. Pada umumnya mereka
menerima calon yang sudah setengah jadi lalu dibentuk dengan pelatihan dan
seminar-seminar yang sporadik. Jika calon itu memiliki kualitas being
yang baik itu akan sangat menguntungkan mereka, tetapi yang sering terjadi
adalah sulitnya menemukan calon dengan kualitas being yang baik.
Kita memerlukan pembinaan pemimpin Kristen yang lebih terpadu dan
sistemik. Kita memerlukan para pemimpin Kristen sejati dan bukan pemimpin
Kristen polesan. Bukan hanya menekankan pada doing aspect saja tetapi lebih
pada being aspect
dengan kualitas prima.
Bagaimana dengan kita di Indonesia?
Disinilah peran gereja lokal sangat dibutuhkan. Gereja sangat berperan
dalam mempersiapkan pemimpin Kristen terutama dalam being aspect.
Gereja dan keluarga harus kembali kepada fungsi utamanya sebagai lembaga
pendidikan, terutama untuk mempersiapkan pemimpin Kristen Indonesia di masa
datang terutama dalam being aspect. Meskipun kenyataannya sekarang
gereja dilanda faham rasionalisasi yang sangat kuat, sehingga banyak gereja
dilemahkan otoritasnya dalam menumbuhkan pemimpin-pemimpin Kristen baru.
Ada yang mengatakan bahwa “gereja tidak
menciptakan pemimpin tetapi gereja hanya menjadi tempat tumbuh dan
berkembangnya para pemimpin, ” itu adalah sepenuhnya benar. Pemimpin
tidak pernah diciptakan, pemimpin itu bertumbuh dan berkembang. Banyak
pemimpin tidak bertumbuh dalam lingkungan yang tepat sehingga mereka menjadi
pemimpin yang buruk (contoh Hitler, Stalin, Mussolini, dsb). Mungkin
pemimpin seperti itu adalah pemimpin yang efektif, karena mereka terbukti bisa
dan mampu memimpin suatu negara dengan kekuatan super di jamannya tetapi
seorang pemimpin bukan hanya efektif tetapi juga harus bermoral (lihat Linda
Kellerman, dalam bukunya Bad Leadership: What it is, How it happens,
Why it matters: Harvard Business School Press, 2004). Apapun
kenyataan yang muncul di permukaan, gereja Tuhan adalah tempat yang paling
ideal dan bermoral untuk menumbuh kembangkan pemimpin Kristen di masa depan di
banding lembaga-lembaga lain apalagi jika dibandingkan dengan lembaga di luar
gereja.
Gereja
Sebagai Komunitas Berdaya guna Kepemimpinan
Ancaman serangan dan kelemahan yang telah
disampaikan di atas harus dihadapi bersama-sama. Gereja dan keluarga yang
telah terbukti selama ribuan tahun yang mampu berhasil menetralisir ancaman,
serangan serta kelemahan tersebut. Jadi mengapa kita tidak memberdayakan
kembali gereja yang telah terbukti kehandalannya dan bekerjasama dengan berbagai
lembaga lain dalam mempersiapkan pemimpin di masa datang?.
Beberapa kelebihan gereja lokal dalam
mempersiapkan pemimpin Kristen di masa datang adalah seperti : (1) Tersedianya
sumber daya calon pemimpin Kristen usia dini. (2)
Berlimpahnya tenaga pelatih. (3) Kemampuan menyelenggarakan pembinaan dengan
biaya murah. (4) Potensi gereja lokal sebagai laboratorium pembinaan
kepemimpinan Kristen yang sempurna.
Hal yang terlebih dahulu yang perlu
dilakukan adalah membangun dasar spiritual termasuk
mengubah paradigma gereja dari sekedar sebuah komunitas iman, kasih dan
persaudaraan menjadi suatu komunitas yang berdaya guna, teristimewa berdaya
guna dalam mempersiapkan pemimpin di masa datang. Hal-hal
yang melemahkan daya guna gereja dalam kepemimpinan pada umumnya adalah:
ketakutan terhadap sikap reaktif masyarakat di luar gereja, ajaran yang keliru,
kelangkaan para pelatih kepemimpinan profesional dan gambaran diri (self-image)
yang tidak alkitabiah. Kedua, melakukan tindakan rasionalis seperti
perencanaan (planning), penganggaran (budgeting),
pengorganisasian (organizing) dan pengawasan (controlling).