Senin, 21 Juli 2014


PELUANG GEREJA LOKAL DALAM MENGEMBANGKAN 
PEMIMPIN KRISTEN GENERASI KEMUDIAN
Oleh
Pdt. Ir. N Eka Pradana, M.Th

     Rontoknya peluang orang-orang Kristen untuk duduk sebagai wakil rakyat dan pemimpin di Pemilu 2014 lalu sangat memprihatinkan komunitas Kristen di Indonesia.  Partai-partai politik yang berbasiskan kekristenan di Indonesia yang didirikan sebagai kendaraan politik pun mengalami hal sama.  Pemilu tahun ini menjadi pelajaran sangat berharga tentang betapa pentingnya hikmat dalam mempersiapkan para pemimpin Kristen bagi Indonesia di masa datang.  Dari pada meratapi nasi yang telah menjadi bubur alangkah baiknya kita mulai mempersiapkan para calon pemimpin Kristen dari sekarang.  Tetapi sebelum kita melangkah jauh terlebih dahulu memahami ancaman suatu gerakan kekristenan baik secara eksternal maupun internal..

Ancaman Eksternal
     Secara eksternal paling tidak ada empat ancaman serangan utama yang harus diwaspadai, pertama adalah penggembosan. . Sasaran utama dari serangan ini adalah menghancurkan kekuatan dengan cara membagi-bagi kekuatan tersebut ke dalam bagian-bagian yang kecil.  Pola umum yang digunakan adalah mempengaruhi para pemimpin Kristen yang memiliki pengaruh untuk mendirikan kendaraan politik atau organisasi sendiri dengan tujuan dapat ditunggangi dan sekaligus dikendalikan.  

     Kedua adalah pengkerdilan, serangan ini ditujukan untuk memasung peranan para pemimpin Kristen yang telah mendapatkan kesempatan duduk dalam struktur kepemimpinan.  Pola yang umum digunakan adalah dengan meletakkan para pemimpin Kristen di tempat yang kurang ataupun sama sekali tidak strategis dalam pengambilan kebijakan.  
     
     Ketiga adalah peminggiran, serangan ini ditujukan untuk menutup setiap kesempatan gerakan kekristenan untuk berkarya dan memberi dampak.  Kehadiran para pemimpin gerakan Kristen masih dimungkinkan untuk hidup tetapi tidak memiliki kesempatan sama sekali.  

     Keempat adalah penumpasan, serangan ini adalah serangan pamungkas untuk menghancurkan secara total semua potensi dan sumber daya gerakan maupun pemimpin Kristen (Tentu masih segar dalam ingatan kita apa yang dilakukan oleh Herodes ketika membunuhi bayi-bayi di bawah 2 tahun di Betlehem dan sekitarnya, 2000 tahun yang lalu).

Ancaman Internal
   Secara internal paling tidak ada tiga ancaman yang sangat fatal dalam setiap gerakan kekristenan.  Yang pertama adalah lemahnya paradigma dalam membangun suatu pergerakan.  Bercokolnya faham fatalisme adalah salah satu penyebab utama mengapa suatu gerakan tidak pernah berkembang dengan sempurna.  Faham ini menekankan bahwa kita tidak dapat melakukan apa-apa karena semua telah ditentukan oleh Allah.  Alih-alih dijadikan sebagai motor penggerak, kasih karunia Allah disikapi dengan kepasrahan dan alasan untuk tidak melakukan apa-apa.  Ini terbukti dengan banyak pemimpin gereja yang masih menganut teori kepemimpinan Great Man Theory. Teori ini digolongkan dalam kelompok teori kepemimpinan purba yang sudah dianggap usang dan tidak pernah digunakan dalam polemik kepemimpinan.  Teori ini mengatakan bahwa pemimpin itu dipilih dan dikaruniakan kepada umat oleh Tuhan sendiri.  Umat tidak perlu berbuat apa-apa. 

     Kedua, kekurangan swa-pemberdayaan (lack of self-empowering), ancaman ini lebih disebabkan oleh karena dampak negatif dari kekurangdewasaan.gereja. Meskipun karakteristik kedewasaan suatu gereja masih diperdebatkan tetapi dampaknya sangat jelas yaitu, sikap sinis terhadap segala sesuatu yang baru, tidak bisa mentertawakan kritik yang ditujukan pada kita, ketidaknyamanan yang akut dan ketidakmampuan menghadapi krisis yang dialami.

    Paul G. Stolzt dalam bukunya Adversity Quotient menyebutkan tiga tanggapan yang biasa terjadi dalam menghadapi krisis. Pertama, memutuskan untuk menghentikan segala sesuatu tanpa alasan yang jelas (Quitters).  Kedua, maju beberapa langkah tetapi kemudian setelah menemukan tempat yang nyaman memutuskan untuk berhenti (Campers).  Ketiga, hidup harus maju dan berkarya meskipun menghadapi krisis (Climbers).  Alih-alih menunggu ketidakjelasan, gereja harus bangkit memberdayakan diri untuk mengubah tantangan atau krisis menjadi  peluang dan kesempatan untuk naik lebih tinggi.

   Ancaman ketiga adalah langkanya jejaring (lack of networking).  Ada dua hal penyebab utama langkanya jejaring antar gereja yaitu eklusifisme dan sempitnya pemaknaan Tubuh Kristus.  Ada berbagai alasan yang membentuk gereja menjadi eklusif dan menolak berjejaring, mulai dari hal praktis hingga teologis.  Eksklusifisme yang dibangun baik secara sadar maupun tidak telah mendorong gereja lebih tertutup terhadap sesama gereja.  Hal kedua adalah pemaknaan Tubuh Kristus yang sempit.  Pemaknaan teologis yang seharusnya membuka wawasan justru berbalik menutup pintu pencerahan.  Itulah yang menjadi salah satu sebab gagal tumbuhnya jejaring antar gereja.  Gereja-gereja di Indonesia harus berjejaring dan bekerjasama mempersiapkan pemimpin Kristen di masa datang (bdg. Mukjizat yang dialami oleh orang lumpuh karena kerjasama empat orang yang mengusungnya di hadapan Yesus dengan cara membongkar atap dalam Markus 2: 1-12).

     Ketiga kelemahan internal membuat gereja rentan terhadap ancaman eksternal di satu sisi dan juga melemahkan gereja sebagai wahana pengembangan dan pertumbuhan calon pemimpin Kristen di masa depan di sisi yang lain.  Tetapi tugas mempersiapkan calon pemimpin menjadi kebutuhan yang mendesak bagi komunitas Kristen di Indonesia.  Kita tidak perlu terintimidasi oleh ancaman serangan eksternal dan pesimis dengan kelemahan diri.  Sejarah kekristenan telah membuktikan bahwa gereja memiliki pengalaman yang cukup dalam menghadapinya dan gereja tetap berdiri kokoh hingga hari ini.  Hal yang perlu dilakukan sekarang adalah menutup kelemahan utama diri kita sambil terus waspada menghadapi ancaman serangan.

Mempersiapkan Pemimpin Kristen Sejak Usia Dini
     Bagaimana kita mempersiapkan para pemimpin Kristen di masa datang?  Akankah kita hanya menunggu paket kiriman pemimpin dari Tuhan?  Daripada menunggu paket kiriman yang tidak jelas kapan datangnya, saya menyarankan kita dengan segera untuk mempersiapkan para pemimpin Kristen sejak usia dini.  Mempersiapkan pemimpin itu seperti mempersiapkan seorang atlet juara bukan hanya kecakapan saja yang dipersiapkan tetapi yang lebih utama adalah menjadikan atlet tersebut memiliki mental juara.  Untuk itu pembinaan atlet harus dimulai dari usia dini.  Demikian juga dengan pemimpin Kristen, jika kita ingin memiliki pemimpin Kristen berskala dunia atau paling tidak nasional maka kita harus membina dan mempersiapkan mereka sejak usia dini.

      Contoh di masa lalu tentang bagaimana mempersiapkan seorang pemimpin sejak usia dini adalah pemimpin gereja yang bernama Timotius.  Ia menjadi seorang pemimpin gereja mula-mula di bawah bimbingan rasul hebat, Paulus.  Tetapi sebelum bertemu dengan Paulus, ia telah dididik dengan sangat intens oleh ibunya Eunike dan neneknya Lois yang adalah orang Yahudi.  Untuk masa sekarang mungkin kita bisa mengacu pada keluarga Kennedy di Amerika Serikat.  Keluarga ini telah memberikan sumbangan yang sangat besar bagi kepemimpinan bangsa di AS.  Dimulai dari JFK (John F Kennedy) yang tewas ditembak di awal 1960-an, mereka terus berkarya dalam kepemimpinan AS hingga Ted Kennedy yang baru saja meninggal.  Yang tidak boleh dilupakan dalam keluarga ini adalah peran dari Rose Kennedy, ibunda JFK, yang sangat serius mempersiapkan anak-anak dan cucu-cucunya untuk menjadi pemimpin yang bertaraf nasional maupun internasional.

Mengembangkan Aspek Doing dan Being Kepemimpinan Kristen.
     Mempersiapkan pemimpin pada umumnya dibagi dalam dua aspek utama yaitu doing aspect (behaviour, skill, practices) dan being aspect (self, framing, character, alignment).  Lembaga-lembaga pendidikan umum, lembaga pelayanan mahasiswa Kristen dan sekolah-sekolah teologi pada umumnya menekanan pada doing aspect dan kurang menekankan pada being aspect..  Peran lembaga-lembaga ini telah terbukti cukup signifikan untuk mempersiapkan para pemimpin Kristen dengan hasil seperti sekarang ini.  Tetapi kita memerlukan para pemimpin Kristen yang memiliki kaliber yang lebih besar sehingga dampak yang ditimbulkannya pun akan lebih luas. 

     Mengapa peranan lembaga disebut di atas tidak dapat menghasilkan para pemimpin yang kita perlukan?  Salah satu sebab utama oleh karena lembaga-lembaga tersebut hanya dapat melakukan finishing touch dalam mempersiapkan pemimpin Kristen.  Pada umumnya mereka menerima calon yang sudah setengah jadi lalu dibentuk dengan pelatihan dan seminar-seminar yang sporadik. Jika calon itu memiliki kualitas being yang baik itu akan sangat menguntungkan mereka, tetapi yang sering terjadi adalah sulitnya menemukan calon dengan kualitas being yang baik.  Kita memerlukan pembinaan pemimpin Kristen yang lebih terpadu dan sistemik.  Kita memerlukan para pemimpin Kristen sejati dan bukan pemimpin Kristen polesan. Bukan hanya menekankan pada doing aspect saja tetapi lebih pada being aspect dengan kualitas prima.

     Bagaimana dengan kita di Indonesia?  Disinilah peran gereja lokal sangat dibutuhkan.  Gereja sangat berperan dalam mempersiapkan pemimpin Kristen terutama dalam being aspect.  Gereja dan keluarga harus kembali kepada fungsi utamanya sebagai lembaga pendidikan, terutama untuk mempersiapkan pemimpin Kristen Indonesia di masa datang terutama dalam being aspect.  Meskipun kenyataannya sekarang gereja dilanda faham rasionalisasi yang sangat kuat, sehingga banyak gereja dilemahkan otoritasnya dalam menumbuhkan pemimpin-pemimpin Kristen baru.

     Ada yang mengatakan bahwa “gereja tidak menciptakan pemimpin tetapi gereja hanya menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya para pemimpin, ” itu adalah sepenuhnya benar.  Pemimpin tidak pernah diciptakan, pemimpin itu bertumbuh dan berkembang.  Banyak pemimpin tidak bertumbuh dalam lingkungan yang tepat sehingga mereka menjadi pemimpin yang buruk (contoh Hitler, Stalin, Mussolini, dsb).  Mungkin pemimpin seperti itu adalah pemimpin yang efektif, karena mereka terbukti bisa dan mampu memimpin suatu negara dengan kekuatan super di jamannya tetapi seorang pemimpin bukan hanya efektif tetapi juga harus bermoral (lihat Linda Kellerman, dalam bukunya Bad Leadership: What it is, How it happens, Why it matters: Harvard Business School Press, 2004).  Apapun kenyataan yang muncul di permukaan, gereja Tuhan adalah tempat yang paling ideal dan bermoral untuk menumbuh kembangkan pemimpin Kristen di masa depan di banding lembaga-lembaga lain apalagi jika dibandingkan dengan lembaga di luar gereja. 

Gereja Sebagai Komunitas Berdaya guna Kepemimpinan
     Ancaman serangan dan kelemahan yang telah disampaikan di atas harus dihadapi bersama-sama.  Gereja dan keluarga yang telah terbukti selama ribuan tahun yang mampu berhasil menetralisir ancaman, serangan serta kelemahan tersebut.  Jadi mengapa kita tidak memberdayakan kembali gereja yang telah terbukti kehandalannya dan bekerjasama dengan berbagai lembaga lain dalam mempersiapkan pemimpin di masa datang?.

     Beberapa kelebihan gereja lokal dalam mempersiapkan pemimpin Kristen di masa datang adalah seperti : (1) Tersedianya sumber daya calon pemimpin Kristen usia dini. (2) Berlimpahnya tenaga pelatih. (3) Kemampuan menyelenggarakan pembinaan dengan biaya murah. (4) Potensi gereja lokal sebagai laboratorium pembinaan kepemimpinan Kristen yang sempurna.

     Hal yang terlebih dahulu yang perlu dilakukan adalah membangun dasar spiritual termasuk mengubah paradigma gereja dari sekedar sebuah komunitas iman, kasih dan persaudaraan menjadi suatu komunitas yang berdaya guna, teristimewa berdaya guna dalam mempersiapkan pemimpin di masa datang.  Hal-hal yang melemahkan daya guna gereja dalam kepemimpinan pada umumnya adalah: ketakutan terhadap sikap reaktif masyarakat di luar gereja, ajaran yang keliru, kelangkaan para pelatih kepemimpinan profesional dan gambaran diri (self-image) yang tidak alkitabiah.  Kedua, melakukan tindakan rasionalis seperti perencanaan (planning), penganggaran (budgeting), pengorganisasian (organizing) dan pengawasan (controlling).




Tidak ada komentar: