IMPLIKASI KEPEMIMPINAN TRANSAKSIONAL
DALAM KEPEMIMPINAN KRISTEN
Ir. N. Eka Pradana, M.Th.
Abstract:
Kepemimpin adalah satu topik yang selalu menarik untuk dibicarakan karena pada setiap komunitas dalam waktu dan ruang tertentu akan selalu membutuhkan seorang pemimpin baik di masa lalu, sekarang maupun di masa datang. Penelitian dalam bidang kepemimpinan telah terbukti menghasilkan nilai-nilai yang lebih universal yang berlaku dalam situasi dan waktu yang lebih daripada teori kepemimpinan yang dibangun atas dasar kepemimpinan seseorang. Jika pemimpin sekuler dituntut untuk menjadi pemimpin yang efektif maka pemimpin Kristen pun demikian. Terbukti bahwa kepemimpinan transaksional sangat sesuai untuk diimplikasikan dalam kepemimpinan Kristen.
Pendahuluan
Kepemimpinan adalah bidang yang telah lama dipelajari sepanjang sejarah kebudayaan manusia seperti yang nyata dalam tulisan-tulisan Kong Hu Cu, Aristoteles dan bahkan dari Alkitab sendiri. Perkembangan penelitian dibidang kepemimpinan telah berkembang sedemikan rupa mulai penelitian-penelitian yang berfokus pada kepribadian, gaya dan perilaku kepemimpinan, proses kelompok kepemimpinan hingga konteks kepemimpinan. Para ahli kepemimpinan pada umumnya sepakat bahwa kepemimpinan adalah suatu hubungan kekekuasaan, penerapan pengaruh, alat untuk mencapai sasaran, atau sebuah pengesahan dari struktur organisasi. Definisi-definisi yang baik tentang kepemimpinan biasanya berkisar dengan hal-hal tersebut. Para pemimpin biasanya adalah para agensia perubahan, karena kepemimpinan akan menghasilkan suatu perubahan organisasi yang terjadi baik baik di dalam maupun diluar lingkungan. Hal tersebut juga terjadi di dalam gereja tanpa terkecuali. Untuk memimpin pribadi-pribadi dan organisasi secara efektif maka para pemimpin gereja (gembala sidang dan para pemimpin lainnya) perlu menerapkan teori kepemimpinan yang ada.
Buku-buku kepemimpinan yang ditulis untuk para pemimpin Kristen biasanya ditulis berdasarkan pengalaman kepemimpinan seseorang yang berada dalam suatu lingkungan tertentu, sehingga sangat kurang memiliki nilai-nilai universalitas. Untuk itu buku-buku yang demikian seyogyanya tidak digunakan sebagai acuan dalam kepemimpinan karena sarat dengan keterbatasan ruang lingkup dan penerapannya.Para pemimpin Kristen harus memiliki wawasan yang luas tentang teori-teori kepemimpinan yang didasarkan pada riset bukan didasarkan pada pengalaman seseorang atau cerita tentang “ apa yang telah berhasil saya lakukan.” Karena riset kepemimpinan akan menghasilkan suatu kebenaran yang lebih luas dan universal, bukan hanya apa yang berhasil dilakukan di sebuah ruang lingkup yang sempit dan terbatas. Salah satu bagian penelitian dalam kepemimpinan yang menjadi favorit adalah penelitian pada bidang yang menekankan pada hubungan interaksi antara pihak pemimpin dan pihak mereka yang dipimpin (bawahan), serta pengaruhnya terhadap masing-masing pihak. Teori-teori kepemimpinan yang paling menonjol dalam bidang ini adalah Leader-Member Exchange Teory (LMX) , Transactional Leadership , Transformational Leadership dan Servant Leadership. Dalam tulisan ini, penulis hanya akan membahas penerapan teori kepemimpinan transaksional dan transformasional dalam kepemimpinan Kristen.
KEPEMIMPINAN TRANSAKSIONAL
Sejumlah pendekatan dalam kepemimpinan menekankan pada proses timbal balik dimana para pemimpin menolong mereka yang dipimpinnya untuk menuntaskan sasaran. Peran seperti itu biasanya dikenal dengan kepemimpinan transaksional, diberi nama seperti itu oleh karena terjadinya suatu transaksi atau pertukaran. Kepemimpinan transaksional pada umumnya menggunakan konsep kepemimpinan yang menonjolkan kepribadaian, perilaku dan gaya situasional kepemimpinan. Studi tentang teori kepemimpinan ini berfokus pada kemampuan dalam hal menjalankan tugas kepemimpinan dan bagaimana menjali hubungan (relationship) dengan yang dipimpinnya.Tugas utama dari para pemimpin transaksional adalah menolong mereka yang dibawahnya untuk mengidentifikasi sasaran yang harus diselesaikan, sebagaimana teori Path-goal Model Leadership. Meskipun proses pertukaran ini kadang-kadang sederhana, namun terkadang kepemimpinan transaksional ini bisa menjadi sangat rumit dan termasuk didalamnya melibatkan bagaimana pemimpin menolong mereka yang dipimpinnya untuk mengidentifikasi bukan hanya apa yang harus diselesaikan namun juga bagaimana memotivasi bawahannya untuk mencapai kesuksesan. Kepemimpinan transaksional muncul tatkala reward atau punishment dilakukan oleh pemimpin atas bawahannya sebagai akibat dari kinerja mereka.
Kepemimpinan transaksional sangat bergantung pada penguatan terus-menerus, baik reward berlanjut yang bersifat positif (CR/Contingent Reward) atau bentuk aktif atau pasif dari manajemen dengan pengecualian (management-by-exception) baik aktif maupun pasif. Komponen dalam kepemimpinan transaksional sebagai berikut:
1.CONTINGENT REWARD (CR).
Transaksi konstruktif ini terbukti efektif dalam memotivasi orang lain untuk mencapai kinerja tertinggi mereka. Kepemimpinan Contingent Reward melibatkan pemberian pekerjaan oleh pemimpin atau menambah persetujuan pengikut atas kebutuhan apa yang harus dituntaskan dengan janji atau reward aktual yang ditawarkan dalam pertukarannya dengan derajat kepuasan yang muncul dari pekerjaan tersebut. Contoh item untuk mengukur Contingent Reward adalah “Pemimpin menjelaskan apa yang orang bisa peroleh jika tujuan dari kinerja dicapai.”
2. MANAGEMENT-BY-EXCEPTION (MBE).
MBE terdiri atas Management-by-Exception Aktif (MBE-A) dan Management-by-Exception Pasif (MBE-P). Dalam MBE-A, pemimpin secara aktif merancang perangkat guna memantau penyelewengan dari standard, kesalahan, dan error yang ditunjukkan oleh pengikut untuk selanjutnya dilakukan langkah-langkah perbaikan. Dalam MBE-P, pemimpin secara pasif menunggu terjadinya penyelewengan, kesalahan, dan error untuk muncul terlebih dahulu baru kemudian mengambil langkah perbaikan. MBE-A efektif untuk dilakukan dalam situasi pekerjaan yang penuh bahaya. MBE-P efektif untuk dilakukan tatkala pemimpin membawahi pengikut yang cukup banyak dan mereka melakukan pelaporan kepadanya. Contoh item MBE-A adalah “Pemimpin mengarahkan perhatian agar kesalahan yang terjadi diperbaiki hingga sesuai dengan yang diharapkan.” Contoh item MBE-P adalah “Pemimpin tidak akan mengambil tindakan hingga keluhan diterima oleh mereka.”
IMPLIKASI TERHADAP KEPEMIMPINAN KRISTEN
Komponen kepemimpinan transaksional bukan hal yang asing dalam kekristenan. “Contingent Reward” pada dasarnya memiliki akar yang kuat dalam pengajaran Kristen. Setiap orang Kristen percaya bahwa keselamatan adalah hanya oleh iman semata (sola fide), namun Tuhan juga menjanjikan “reward” yang lain bagi mereka yang melayani dengan setia. Banyak orang Kristen juga percaya bahwa Tuhan sendiri adalah contoh terbaik dengan apa yang disebut dengan “management by exception,” sebagai contoh: Tuhan akan campur tangan dalam perkara-perkara terkait dengan umat-Nya bila perjanjian-Nya dilanggar. Meskipun sebagian besar orang Kristen menolak pemahaman atau gagasan tentang pertukaran untuk memperoleh keselamatan, namun semua percaya bahwa orang Kriten akan menerima bahwa ada “reward” atau hadiah atas kesetiaan dalam mengikut Tuhan.Gagagasan ini membuat orang Kristen secara khusus terbuka terhadap prinsip-prinsip kepemimpinan transaksional. Berikut dua implikasi kepemiminan transaksional dalam kepemimpinan Kristen:
1. Para pemimpin Kristen seringkali cenderung hanya memberikan penghargaan berupa keuangan kepada para pengikutnya (kecuali memang staf profesional). Penghargaan lain yang ditawarkan sering kali hanya bersifat intrinsik, tidak berwujud, dan kadang-kadang ditunda dibanding dengan penghargaan sejenis upah atau gaji. Jika memang itu yang terjadi, maka gereja justru akan kehilangan keunikkannya. Bagi banyak aktivis gereja pada umumnya memahami bentuk penghargaan tidaklah semata-mata mengharapkan penghargaan dalam bentuk uang atas bakti kerja mereka. Seringkali pekerjaan pelayanan gereja justru bukan didasarkan pada keuangan semata namun lebih kepada motivasi bagaimana mengaktualisasi diri mereka, pengabdian diri, memberi kontribusi pada kekekalan, atau membuat dunia ini menjadi lebih baik. Para pemimpin Kristen harus lebih memahami hal tersebut dengan lebih cermat karena penghargaan seperti inilah yang tidak dapat diberikan oleh komunitas apapun diluar gereja.
2. Pekerjaan pelayanan Kristen harus diberlakukan sebagai suatu pekerjaan yang mendatangkan sebuah penghargaan. Bukan suatu hal yang memalukan untuk mendorong pengikut dengan menawarkan suatu pahala yang besar ketika mereka terlibat dalam pelayanan Kristen secara sukarela seperti menjadi tenaga pengajar sekolah minggu, pengatur parkir kendaraan, membimbing remaja dan pemuda, dsb.
(1) Graen, G. G., & Uhl-Bien, M. (1995).
Relationship-based approach to leadership: Development of leader-member
exchange (LMX) theory of leadership over 25 years: Applying a multilevel
multi-domain perspective. Leadership Quarterly, 6(2), 219-247.
(2) Northouse,
P. G. (2001). Leadership theory and practice (2nd Ed.). Thousand Oaks,
CA: Sage Publications.
(3) Burns, J. M. (1978). Leadership. New
York: Harper & Row.
(4)
Greenleaf, R. K. (1977). Servant leadership: A journey into the nature of
legitimate power and greatness. New York: Paulist Press.
(5) House, R.
J. (1971). A Path-Goal Theory of Leader Effectiveness. Administrative Science
Quarterly. 16, 321-328.
Ir. N. Eka Pradana, M.Th., adalah staf pengajar di Sekolah Tinggi Teologi Soteria Purwokerto (STTSP) dalam bidang Dogmatika dan Kepemimpinan Kristen. STTSP adalah sekolah yang dirikan oleh Pdt. Pilipus Budiprayitno Gembala Sidang Gereja Bethel Tabernakel Yesus Juruselamat Purwokerto . Instruktur dalam pembedayaan kepemimpinan Kristen bagi mahasiswa dan anak muda Kristen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar